Pages

Saturday, July 6, 2024

Temanku yang Malas

  Teks anekdot 

Temanku yang Malas

 

Di salah satu sudut ruangan kantor, tampak tiga karyawan sedang berbincang serius. Mereka duduk melingkar sambil santap makan siang saat jam istirahat kerja.

Alvi  : “Aku tuh heran sama kamu, Cha.”

Ocha   : “Kenapa heran sama aku?”

Alvi  : “Masalahnya, kamu itu kalau ada tugas buat laporan atau apapun selalu saja lama buatnya.”

Joko  : “Betul tuh, kalaupun selesai, selalu saja berantakan.”

Alvi  : “Benar sekali, gara-gara kamu aku sering dimintai tolong Pak

Feri, pimpinan kita, untuk mengetik ulang laporan dari awal.”

Ocha : “Ah, tidak usah ngeluh. Kan kita  ini  berteman.  Sudah sewajarnya sesama teman saling membantu.”

Joko    : “Masalahnya, karyawan yang lain juga ikut membicarakan kamu. Kata mereka, kapan sih kamu itu kalau ada panggilan tugas dari pimpinan langsung cepat tanggap dan tidak buat kesalahan terus?”

Alvi  : “Iya, nih. Aku juga pernah ditanya karyawan di ruang sebelah tentang hal itu. Bagaimana kalau kami terus-terusan ditanyai mereka?”

Ocha : “Tenang saja, kalian jangan pusing! Jawab saja sejujurnya bahwa kalian pernah lihat aku cepat tanggap saat dipanggil pimpinan dan tidak salah menyelesaikan tugas darinya.”

Joko   :   “Memang kapan?”

Ocha :  “Minggu lalu, waktu Pak Feri memanggilku untuk mengambil dan menghitung isi amplop bulanan yang ku terima di setiap awal bulan.”

Mendengar jawaban itu, Alvi dan Joko sontak tertawa terbahak- bahak. Seketika itu juga suasana yang tadinya serius berubah cair dan ceria. Jawaban spontan Ocha itu apa adanya dan tidak dibuat-buat. Mereka menganggap jawaban Ocha kali ini benar-benar cerminan dari kehidupan sebagian masyarakat saat ini.

 

(Sumber: Kurniawan/Kemendikbudristek, 2023)


No comments:

Post a Comment

Ketika Pikiran Menjadi Takdir : Self Fulfilling Prophecy dalam Membangun Harga Diri

Kreator : Lisa Aiko Ketika kita depresi, maka kita yakin bahwa kita sama sekali tidak berharga. Semakin buruk depresi, semakin kita merasaka...