Pages

Saturday, July 6, 2024

Liburan Kuli Bangunan

 Teks Anekdot

Liburan Kuli Bangunan


Asalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Perkenalkan, saya Didi. Di sini adakah kuli bangunan? Wah, berarti saya satu-satunya ya di sini? Ngomong-ngomong soal liburan, buat kebanyakan orang, liburan itu obat stres, tapi buat saya malah bikin stres. Datang liburan orang-orang sibuk nyiapin rencana mau liburan ke mana. Saya malah sibuk nyari alasan.

Anak saya minta liburan, “Pak, ingin ke Dufan.” “Nak, Jakarta banjir.” “Ya udah Pak, ke Tangkuban Perahu.” “Nak, perahunya bocor.”

“Ah bilang aja, Bapak gak punya uang.” “Cerdas!”

Anak saya itu memang jarang liburan. Saya bawa ke tempat kerja saja, menurut dia itu tamasya. Dari pagi sampai sore, dia anteng nyusun lego pakai batu bata. Kalau orang lain nyusun lego jadi robot, anak saya jadi pos ronda.

Pulang ke rumah ditanya sama istri saya, “Gimana, Nak, seru main sama Bapak?”

“Mantap, Mah! Pokoknya udah gede aku mau jadi kuli bangunan.”

“Hei, masa perempuan jadi kuli bangunan.” “Gak apa-apa, Mah, emansipasi!”

Ya, anak saya itu memang jarang liburan, jadi dia itu norak. Kemarin saya ajak ia mandi bola, eh dianya bawa handuk.

Istri saya langsung ngomong, “Nak, mandi bola gak usah bawa handuk, kan udah disediain.”

Tapi bukan cuma anak saya, saya juga jarang liburan. Satu-satunya liburan saya ya di acara ini. Buat saya, kompetisi ini liburan. Gimana enggak? Saya dapat pergi ke Jakarta, tidur di hotel, kasurnya empuk, kalau saya tidur langsung terbayang hal indah. Gak seperti di rumah. Kalau di rumah, saya ketika tidur, langsung terbayang cicilan. Tapi, gara- gara itu saya sering diprotes sama anak saya. Dia bilang gini,

“Bapak curang! Tidur di hotel, makan nasi kotak, tiap hari naik lift.” “Nak, kan Bapak di sana kerja.”

“Apa, Pak? Kerja? Katanya Jakarta banjir.”

“Nak, iya banjir, makanya Bapak ke Jakarta naik tongkang.”

Anak saya itu sering protes karena dia itu ingin banget ke Jakarta, ingin tahu Dufan. Kalau anak yang lain, ingin tahu Dufan, lantas dibawa ke Dufan. Namun, kalau anak saya ingin tahu Dufan, saya bawa dia ke warnet. “Tuh Nak, Dufan, Dufan itu.”

Tapi saya jadi tahu walaupun dari warnet, ternyata banyak wahana di Dufan itu, salah satunya rumah miring. Rumah miring, ini kalau mandor saya tahu, dibongkar ini. Saya aja masang bata miring dimarahin. Ini orang dengan sadar tanpa pengaruh apa pun malah ngebangun rumah miring. Ini anak proyek mana yang bikin? Bikin malu komunitas.

Saya Didi. Terima kasih.

 

(Sumber: Didi, Stand Up Kompas TV, 2017, dengan pengubahan seperlunya)


No comments:

Post a Comment

Ketika Pikiran Menjadi Takdir : Self Fulfilling Prophecy dalam Membangun Harga Diri

Kreator : Lisa Aiko Ketika kita depresi, maka kita yakin bahwa kita sama sekali tidak berharga. Semakin buruk depresi, semakin kita merasaka...