Pages

Tuesday, January 6, 2026

Ketika Pikiran Menjadi Takdir : Self Fulfilling Prophecy dalam Membangun Harga Diri

Kreator : Lisa Aiko


Ketika kita depresi, maka kita yakin bahwa kita sama sekali tidak berharga. Semakin buruk depresi, semakin kita merasakan hal itu. Sesungguhnya kita tidak sendirian. Suatu penelitian terbaru yang dilakukan oleh Dr. Aaron Beck mengungkapkan bahwa lebih dari 80% pasien yang mengalami depresi menyatakan ketidaksukaan terhadap diri sendiri (self-dislike). Lebih lanjut Dr. Beck menemukan bahwa para pasien tersebut memandang diri mereka diri mereka sebagai orang-orang yang lemah dalam berbagai kualitas yang justru mereka nilai sangat tinggi, misalnya : intelegensi, prestasi, popularitas, daya tarik, kesehatan dan kekuatan. Ia mengatakan, gambaran diri orang yang mengalami depresi dapat ditandai oleh 4 D : kita merasa gagal (Defeated), kurang (Defective), tersingkir (Deserted), dan (Deprived).

Hampir semua reaksi emosional negatif adalah akibat dari rendahnya harga diri. Suatu citra diri (self image) yang buruk merupakan kaca pembesar yang dapat mengubah suatu kesalahan atau kekuarangan kecil menjadi simbol besar kekalahan atau kegagalan pribadi.

Saat seseorang mengalami hal tersebut, dia akan menunjukkan keyakinan betapa mengerikannya saat dicela, ditolak atau melakukan suatu kesalahan atau gagal. Rupanya dia yakin bahwa jika seseorang meremehkan dirinya, maka semua orang lain juga akan melakukan hal yang sama. Seolah-olah perkataan TELAH DITOLAK tiba-tiba ditempelkan pada dahinya agar bisa dilihat setiap orang. Agaknya ia tidak memiliki harga diri yang tidak tergantung pada pengakuan dan atau sukses yang diperolehnya. Ia mengukur dirinya dengan bagaimana orang lain memandang dia dan bukan dari apa yang telah ia capai. Jika kebutuhan akan pengakuan serta prestasi tidak terpuaskan, maka ia akan merasa bahwa bukan apa-apa.

Hal ini menjadi perenungan saya selama bertahun-tahun. Ada seorang kenalan saya, sebut saja Mawar, menilai dirinya demikian buruk. Dia merasa dirinya tidak pantas dicintai, dia buruk, dia tidak setia, dia merasa sangat tidak berharga, dan mengatakan bahwa dia ditolak. Tiap kali ada orang lain yang berbicara buruk tentang dia di belakangnya, atau langsung disampaikan ke dia, atau saat orang berbicara secara kasar kepadanya, maka dia menjadi sangat sedih dan menderita, bahkan dia merasa bahwa dirinya dibenci semua orang dan tidak diinginkan, dia telah DITOLAK! Dan berujung dengan satu dendam tak logis, dia melakukan banyak hal hanya untuk membuktikan bahwa dia hebat, dia luar biasa dan tak seharusnya dia ditolak. Namun dia selalu merasa bahwa dirinya kurang pandai, kurang hebat, bahkan menjadi satu-satunya pribadi yang tidak bisa melakukan apapun.Ketika ditanya, untuk siapa dia ingin membuktikan semuanya, maka dia tak bisa menjawabnya. Dia mengukur dirinya bagaimana orang lain memandang dia dan bukan dari apa yang telah ia capai. Ketika bahkan saudara-saudara mengatakan bahwa tak seharusnya dia mempedulikan perkataan orang lain yang telah berbicara buruk mengenai dirinya atau orang yang mengolok-oloknya dan saudara- saudaranya mengatakan dia hebatpun, dia bahkan tak bisa mempercayainya.

Seperti itulah dia memandang rendah dirinya. Baginya, hal ini sangat realistis meski kita berpikir bahwa dorongan perfeksionisnya dalam berprestasi serta kebutuhannya akan pengakuan akan menjatuhkan dirinya sendiri serta tidak realistis.

Pada dasarnya, untuk mendapatkan harga diri yang benar memang tidak seharusnya berdasarkan kecantikan, ketampanan, kekuatan, kekuasaan. ataupun kekayaan. Seharusnya, kebahagiaan kita bukan berdasarkan semua itu, citra diri kita juga tidak bisa didapatkan melalui semua itu. Kita tidak bisa menilai diri kita berdasarkan kehebatan kita atau  apa yang kita lakukan dan hal-hal tadi. Lalu, bagaimana cara mendaptakan citra diri yang benar? Beberapa mungkin berkata, saya lemah dan tak sebaik orang lain seperti yang mereka katakan tentang saya.

Salah satu ciri khas terapi kognitif adalah bahwa terapi ini sama sekali menolak pengakuan rasa tidak berharga kita. Terapi kognitif ini menuntun para pasien menilai kembali (reevaluasi) citra negatif diri pasien secara sistematis. 


Mengatasi Perasaan Tidak Berharga

Pada saat ini mungkin kita akan berkata : "baiklah, aku dapat melihat bahwa ada suatu ketidaklogisan di balik perasaan tidak berharga. Sekurang-kurangnya bagi beberapa orang. Namun mereka kan pada dasarnya adalah orang hebat, orang yang ditakdirkan selalu jadi pemenang, ditadirkan sukses, beruntung, mereka kan tidak seperti aku.Aku ini bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Kenyataannya mereka semua lebih hebat, lebih muda, lebih cekatan, lebih pandai, dan lebih sukses. Lalu apa yang dapat aku lakukan? Aku ini nol besar!Perasaan tidak berharga milikku ini sah, wajar, karena berdasarkan kenyataan!"

Para ahli psikoterapis mungkin meminta kita menumpahkan atau melepaskan semua uneg-uneg kita. Pelepasan uneg-uneg tersebut biasa disebut katarsis, kadangkala walau tidak selalu, dapat mengurasi murung kita. Katarsis saja sebenarnya tidak cukup untuk mengatasi rasa tidak berharga kita. 


Metode Spesifik untuk Mengangkat Harga Diri


Bantahlah kritik batin Anda!

Perasaan ketidakberhargaan diciptakan oleh kritik dari batin Anda sendiri. Ia berupa pernyataan-pernyataan yang merendahkan diri, "Saya jelek", "Saya bodoh", "Saya tidak kretif", "saya tua dan sakit-sakitan", "Saya merepotkan", dan seterusnya. Untuk mengatasi kebiasaan mental seperti ini, diperlukan langkah berikut :

1. Latihlah diri Anda untuk mengenali serta mencatat pemikiran-pemikiran yang sifatnya mencela atau mengkritik pada saat hal itu melintas di benak Anda

2. Pelajarilah apa sebab pikiran-pikiran  ini terdistorsi

3. Praktekkanlah membantah semua itu untuk mengembangkan suatu sistem evaluasi diri yang lebih realistis.


Sebenarnya apa itu "Self Fulfilling Prophecy"?

Istilah self-fulfilling prophecy pertama kali diperkenalkan oleh Robert K. Merton (1948), seorang sosiolog, yang menjelaskan bahwa keyakinan awal—baik benar maupun salah—dapat memengaruhi perilaku seseorang sehingga keyakinan itu benar-benar terwujud. Dengan kata lain, apa yang kita yakini memengaruhi cara kita bertindak, dan tindakan itulah yang membentuk hasil hidup kita.

Dalam konteks psikologi, terutama terapi kognitif, konsep ini menjadi sangat relevan karena berkaitan langsung dengan harga diri (self-esteem).

Hubungan Pikiran, Harga Diri, dan Perilaku

Menurut Aaron T. Beck, pencetus Cognitive Therapy, manusia memiliki automatic thoughts—pikiran spontan yang sering kali tidak disadari. Jika seseorang memiliki skema kognitif negatif tentang diri sendiri (“Aku tidak berharga”, “Aku selalu gagal”), maka pikiran itu akan:

  1. Menurunkan rasa percaya diri

  2. Mendorong perilaku menghindar

  3. Memperkuat pengalaman kegagalan

Siklus ini akhirnya memperkuat harga diri yang rendah, seolah-olah membenarkan keyakinan awal tadi.

Beck menegaskan bahwa bukan peristiwa yang menentukan perasaan kita, melainkan cara kita menafsirkan peristiwa tersebut.


Harga Diri dan Keyakinan tentang Diri

Carl Rogers, tokoh psikologi humanistik, menyatakan bahwa setiap manusia memiliki kebutuhan mendasar akan positive self-regard (penerimaan diri positif). Ketika seseorang tumbuh dengan penilaian negatif—baik dari lingkungan, pengalaman masa lalu, maupun dialog batin—maka ia cenderung membangun citra diri yang rapuh.

Harga diri yang rendah membuat seseorang:

  • Takut mencoba

  • Mudah menyerah

  • Merasa tidak layak berhasil

Tanpa disadari, pola ini menjadi nubuat yang terpenuhi dengan sendirinya.

Peran Terapi Kognitif: Mengubah Takdir lewat Pikiran

Di sinilah terapi kognitif berperan penting. Melalui proses restrukturisasi kognitif, klien diajak untuk:

  • Mengenali pikiran negatif otomatis

  • Menguji kebenaran pikiran tersebut

  • Menggantinya dengan pikiran yang lebih realistis dan adaptif

Menurut Albert Ellis (Rational Emotive Behavior Therapy), bukan peristiwa A (Activating Event) yang menyebabkan emosi C (Consequence), melainkan keyakinan B (Belief). Saat keyakinan diubah, reaksi emosional dan perilaku pun ikut berubah.

Ketika seseorang mulai berpikir, “Saya memang belum berhasil, tapi saya mampu belajar,” maka perilakunya akan berubah: lebih berani mencoba, lebih terbuka terhadap proses, dan lebih tahan terhadap kegagalan. Perlahan, harga diri pun bertumbuh secara sehat.


Dari Nubuat Negatif ke Nubuat Positif

Kabar baiknya, self-fulfilling prophecy tidak selalu bersifat negatif. Para psikolog sepakat bahwa keyakinan positif yang realistis dapat menciptakan positive self-fulfilling prophecy. Martin Seligman, tokoh psikologi positif, menekankan pentingnya learned optimism—belajar melihat diri dan masa depan secara lebih konstruktif.

Ketika pikiran diarahkan untuk mendukung pertumbuhan, maka pikiran itu tidak lagi menjadi penjara, melainkan jembatan menuju pemulihan dan perkembangan diri.

Harga diri bukanlah sesuatu yang terbentuk dalam semalam, tetapi dibangun dari narasi yang terus kita ulang tentang diri sendiri. Terapi kognitif mengajarkan bahwa dengan mengubah cara berpikir, kita sedang mengubah arah hidup.

Karena pada akhirnya, ketika pikiran berubah, takdir pun ikut bergerak.


Referensi :

  • Beck Aaron T. Depression : Clinical, Experimental, & Theoritical Aspects. New York : Hoeber, 1967. (Dipublikasi ulang sebagi Depression : Causes and a Treatment . Philadelphia : University of Pennsylvania Press, 1972, halaman 17 - 23)
  • Merton, R. K. (1948).
    The self-fulfilling prophecy.
    The Antioch Review, 8(2), 193–210.
    → Sumber klasik yang pertama kali memperkenalkan konsep self-fulfilling prophecy.

  • Beck, A. T. (1976).
    Cognitive Therapy and the Emotional Disorders.
    New York: International Universities Press.
    → Dasar teori terapi kognitif tentang pikiran otomatis, skema kognitif, dan harga diri.

  • Beck, A. T., Rush, A. J., Shaw, B. F., & Emery, G. (1979).
    Cognitive Therapy of Depression.
    New York: Guilford Press.
    → Hubungan pikiran negatif, harga diri rendah, dan pola perilaku maladaptif.

  • Ellis, A. (1962).
    Reason and Emotion in Psychotherapy.
    New York: Lyle Stuart.
    → Konsep ABC Model (Activating Event–Belief–Consequence) dalam REBT.

  • Rogers, C. R. (1951).
    Client-Centered Therapy.
    Boston: Houghton Mifflin.
    → Konsep self-concept dan positive self-regard dalam pembentukan harga diri.

  • Rosenberg, M. (1965).
    Society and the Adolescent Self-Image.
    Princeton, NJ: Princeton University Press.
    → Referensi klasik tentang konsep dan pengukuran self-esteem.

  • Seligman, M. E. P. (1991).
    Learned Optimism.
    New York: Knopf.
    → Peran keyakinan dan optimisme dalam membentuk hasil hidup dan kesejahteraan psikologis.

  • Corey, G. (2017).
    Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy (10th ed.).
    Boston: Cengage Learning.
    → Integrasi terapi kognitif, REBT, dan humanistik dalam praktik konseling.

No comments:

Post a Comment

Ketika Pikiran Menjadi Takdir : Self Fulfilling Prophecy dalam Membangun Harga Diri

Kreator : Lisa Aiko Ketika kita depresi, maka kita yakin bahwa kita sama sekali tidak berharga. Semakin buruk depresi, semakin kita merasaka...