Pages

Thursday, March 2, 2023

LANGIT

 

Rintik hujan menyiram lembut bumi senja, dari semalam mereka tak kunjung henti. Hari ini langit pun seolah tak ingin tersenyum melihatku berjalan pulang dari sekolah, maklum, mungkin karena langit merasa kalau dia adalah bestie ku. Langit...seperti nama seseorang yang pernah singgah di hatiku. Saat ini aku hanya terdiam, kelu, mengingat bahwa saat ini dia sudah tidak disini. 

Teringat 2 tahun lalu saat dia masih bersamaku, Langit, tak pernah berhenti menyapaku. Tak seperti nama orang itu, hari ini hujan datang tak menyapa, lalu pergi begitu saja, seharusnya namanya bukan Langit, tapi Angin. "Clara!!" teriak satu suara Aku terkejut. Suara tak asing yang menjengkelkan namun begitu kurindukan. "Langit!!!Apa-apaan sih kamu! Ga jelas banget!!" kataku cemberut. " Hidiiihhh..gitu aja marahhhhh...." godanya. "Langit...kamu tau ga..kalo kamu kayak gitu terus, lama-lama aku bisa jantungan, tau!!" kataku mulai marah. "Eitssss...jangan marah, Nona Syantiiikkkk....Langit punya berita bagus buat Nona!!" serunya gembira. "Hah? berita bagus??Apaan tuh? " tanyaku penasaran. " Tau gak..kita berdua ketrima di Eagle School lohhhh!" serunya gembira " Hah???serius???" kataku kaget. " Iya betullll..jadi kita lolos test, Clara! Yeayyyyyyyy!" serunya gembira. Sore itu, aku melihat senja mulai temaram, namun hati kami berbunga-bunga. Eagle School adalah sekolah favorit di kota kami, dan hampir semua anak ingin bersekolah disana. Namun karena itu adalah sekolah terbaik, biayanya sangat mahal. Untuk itulah kami mengajukan program beasiswa, dan setelah mengikuti test ternyata kami diterima! Saking bahagianya kami berlari kesana kemari berdua sambil berteriak seperti orang gila. "Claraaaaaaa....aku senang sekaliiiiiiii" teriak Langit. "Claraaaaaaa......aku senang sekali aku bisa sekolah di sekolah yang sama dengan kamu Clarrrrrr!!Claraaaa...kita sama-sama terus yaaaaaaaa!" teriak Langit sambil berlarian gak jelas. Aku hanya bisa tersenyum melihat polah tingkahnya. Kupandangi raut wajahnya dari kejauhan..Langit..sahabatku dari kami masih di bangku taman kanak-kanak, hingga sampai saat ini, adalah orang yang paling mengerti diriku. Tiap kali aku sedih, dia selalu berlari ke arahku. Dialah orang pertama yang selalu menghiburku, membawakanku makanan-makanan yang kusukai, mainan dan semua yang kuinginkan. Dan tiap kali aku menangis, dia selalu membelikanku ice cream. Hal-hal kecil yang dia lakukan selalu tampak manis di mataku. Saat ini, anak kecil yang beranjak dewasa itu berputar-putar tidak jelas sambil tertawa, seperti hendak terbang dia. "Claraaaaaaaa....Claraaaaa....aku ingin terbanggggg!" teriak Langit. "Apaan sih gak jelas!!!Woiiiiii..kalau mau terbang, terbang sana!!!" balasku sambil tertawa. Sore itu kami lalui dengan bahagia.

Malamnya, aku mulai berpikir merencanakan apa yang harus kami lakukan dengan program beasiswa itu. Saat pikiranku berjalan tak berarah, tiba-tiba muncul notifikasi di hp. "Clara..aku tunggu di warung bakmi gang sebelah yah!" tulis Langit. "Aduuuhh..ada apa lagi sih ni anak!" kataku kesal, karena aku sudah sangat mengantuk. Namun aku tetap saja melangkahkan kakiku keluar.

"Mahhh..aku keluar bentar yaa...ke warung bakmi sebelah, ketemuan sama Langit!" seruku. "Yaaaa...jangan malam-malam yaaaa...Oya...tolong ini ada sedikit kue buat Langit,tadi mamah bikin dan sisa banyak banget! Salam buat Langit ya!" seru Mamah. "Yaaaaa!" sahutku sambil berlari sembari membawa kardus berisi  kue Mamah. Jarak rumahku dengan warung bakmi hanya 200 meter,jadi tak butuh waktu lama aku telah sampai di depan warung. "Hai Clar..sini sini!" seru Langit yang tiba-tiba muncul dari balik warung. Kami duduk tidak jauh dari Mang Ateng, penjual mie kenalan kami sejak kami kecil. "Pesen yang biasa ya Mang!" ujarku pada Mang Ateng. *Siap, Non!" sahut Mang Ateng. "Clar..ada yang mau kuomongin ke kamu nih.. tapi jangan marah ya!" kata Langit dengan suara pelan. "Ada apa sih Lang?" seruku penasaran. "Jadi gini...sebelum hasil keputusan beasiswa itu keluar,ternyata diam-diam Papahku udah daftarin aku ke salah satu sekolah favorit di Jakarta, karena ternyata bulan depan Papahku ada tugas di Jakarta juga, Clar..." jelas Langit sedih. Aku hanya termenung mendengar cerita Langit."Aku tidak ingin pergi dari kota ini ,Clar..bagiku kota ini adalah kota yang penuh kenangan,,kota dimana aku dibesarkan..dan terlebih lagi..aku juga tidak ingin pisah sama kamu,Clar..." jelas Langit sedih sekali lagi. Sekali lagi..aku hanya bisa terdiam mendengar penjelasan Langit. Entah kenapa,hatiku seperti ditusuk oleh benda tajam yang menyakitkan. Apakah aku akan kehilangan Langit? "Clar...sekarang kan udah canggih,kita bisa vidcall an tiap hari kan? Jadi gak masalah kan?" hibur Langit. "I..iya Lang" jawabku lirih. "Udah ga usah sedih..makan yuk!" ujar Langit sambil menyantap bakmi kesukaannya

Aku terdiam, mataku nanar menatap Langit yang tampak baik-baik saja,entah mengapa aku merasa tak baik-baik saja. Setelah mie kami habis,kami berjalan pulang bersama. Pikiranku masih tak beraturan,aku bingung dengan perasaanku.Aku masih bingung dengan kondisi ini. Tiba- tiba terdengar suara, "Awas, Clara!" teriak Langit. Tiba-tiba aku merasa Langit mendorongku jauh ke tepi jalan hingga aku jatuh terguling, "Brakk!!!" terdengar seperti benturan benda keras. Kepalaku masih pusing saat jatuh tadi, namun aku melihat orang-orang berlarian ke tengah jalan. "Ada tabrakan!!" teriak orang-orang. "Hah? Tabrakan? Jangan-jangan...." pikirku gelisah. Aku segera bangkit dari posisiku,dan mencoba menyeret kakiku yang lecet saat jatuh tadi. Aku mendekati kerumunan itu, dan tampak orang-orang mengelilingi satu tubuh yang tergeletak disana. Aku berlari mendekat. "Minggir!!Minggir!!" teriakku. Orang-orang menepi,dan betapa terkejutnya aku,aku melihat Langit,tergelak tak berdaya. "Langiiiit!!Langiiiiitttttt!" aku berteriak seperti orang gila Orang-orang memegangku supaya aku tak mendekati Langit. Dan tiba-tiba seluruh langitku terasa gelap.

"Langit...Langittt..kamu mau kemana?" seruku. Entah mengapa aku tiba-tiba ada di taman ini, tempat ini begitu indah,dan aku bahagia bisa bertemu dengan Langit. "Clar..aku sayang kamu..aku janji..aku ga akan tinggalin kamu..kamu yang sabar ya .," kata Langit lembut. "Langit..jangan pergi! Jangan tinggalin aku,Langit!" seruku sambil menangis. "Clara...jangan takut,kamu ga akan sendiri, ada mamahmu,papahmu, dan teman-teman yang sayang kamu..aku gak akan ninggalin kamu..yang sabar yah.." ujar Langit sambil tersenyum. "Langittttt...langittttt!" aku berteriak sambil menangis. Dan tiba-tiba terdengar suara "Clara!! Clara! Kamu sudah bangun, nak?" suara mamah menyadarkanku dari pingsanku.

"Non...Non..kok melamun?" ujar seseorang di dekatku.Rupanya dari tadi aku melamun,mengingat peristiwa 2 tahun lalu saat kecelakaan yang menimpa Langit terjadi. Yah..Langit menyelamatkanku dari aksi tabrak lari sebuah mobil yang menyetir ugal-ugalan di komplek perumahan kami.

Tanpa sadar air mataku menetes mengingat peristiwa itu. " Non..Mang Ateng udah bikin bakmi kesukaan Non Clara. Ayo dimakan ntar kebur dingin..laper kan pulang sekolah belum makan,jangan melamun lagi Non.." hibur Mang Ateng penjual bakmi yang baik hati itu sambil tersenyum.Aku hanya termenung sambil menyantap bakmi rebus yang kupesan,rasa bakmi yang selama ini kusuka menjadi hambar sejak 2 tahun lalu,namun anehnya aku tetap selalu memesannya,terutama bila aku merindukan Langit. "Non.." seru Mang Ateng. "Ada apa,Mang" jawabku lunglai. "Non..udah denger kabar belum?" ujar Mang Ateng. "Hah? Kabar? Kabar apa Mang?" jawabku acuh. " Itu...anu ..duh gimana ngomongnya yak? Intinya Non Clara jangan sedih terus Non ..." ujar Mang Ateng sekali lagi.Tampaknya Mang Ateng kebingungan ingin menyampaikan sesuatu.

Aku yang tidak begitu mempedulikan perkataan Mang Ateng,sibuk dengan pikiranku yang selama 2 tahun ini sering berkhayal tentang Langit. Aku sangat kehilangan dia.Aku juga merasa sangat bersalah kepadanya. Saat pikiranku menerawang jauh,saat aku hendak menyantap bakmi yang sudah dingin itu, tiba-tiba terdengar suara yang seolah tak asing di telingaku "Anak cantik mana senyumnya? Kok cemberut sih, mau ice cream gak?" seru suara itu. Aku terkejut. Itu.....itu seperti suara Langit..tapi..mana mungkin?????

Segera aku menoleh ke arah suara itu. Langit!!! Iya betul!! Yang kulihat adalah Langit!!! Aku terbujur kaku, sekolah ada jutaan ton listrik menghempasku. Itu Langit!!! Sosok yang 2 tahun ini kurindukan! Setelah kecelakaan itu aku tak bisa melihatnya lagi. Mamah bilang kalau Langit pergi berobat ke Amerika dengan orangtuanya. Tak ada surat,telpon maupun pesan melalui ponsel darinya. Bahkan setahun lalu kudengar kabar kalau Langit sudah meninggal. "Hai Clar...kamu gak kangen aku??" canda Langit dengan ketawa sumringahnya. Mataku berkaca-kaca. ”Lang...Langitttt!Kamu jahat sekaliii!" isakku. Mataku basah oleh airmataku. Aku bingung tak tahu harus bagaimana. Langit yang tersenyum, segera mendatangiku. “Clara maafkan aku ya..maaf aku tak memberimu kabar karena aku tak ingin kamu kuatir .aku baik-baik saja sekarang.." bisik Langit lembut. Aku hanya bisa menangis dan terisak. "Langit..please jangan pergi lagi ya.." tangisku. "Ya Clara...aku sudah kembali..kita akan bersama-sama lagi seperti dulu.." jawab Langit sambil tersenyum.

Kami berjalan pulang bersama. Langit kembali ke rumahnya yang dulu, kali ini Langit tinggal bersama kakek neneknya karena orangtuanya ada tugas di Jakarta dan harus menetap disana untuk beberapa waktu. Senja itu, aku menatap ke langit. Seperti halnya Langit yang tersenyum kepadaku, aku melihat langit yang sama yang mengedipkan kebahagiaan kepadaku. Dan lagi-lagi, rintik-rintik lembut turun membasahi bumi. Meski hujan menyirami dengan lembut, namun memberikan kesegaran dan keindahan tersendiri di senja itu. Langit mungkin saja mengerti tangisanku, doaku dan harapanku. Langit mungkin ingin berkata, meski terkadang hari tampak suram, namun ada keindahan dalam setiap tetes hujan yang jatuh, yang akan terus mengingatkan kita akan keajaiban Tuhan yang selalu hadir.

 

Ditulis oleh Lisa Aiko


No comments:

Post a Comment

Ketika Pikiran Menjadi Takdir : Self Fulfilling Prophecy dalam Membangun Harga Diri

Kreator : Lisa Aiko Ketika kita depresi, maka kita yakin bahwa kita sama sekali tidak berharga. Semakin buruk depresi, semakin kita merasaka...