Pages

Thursday, February 23, 2023

Senjaku Pagiku Bersamamu

Senjaku Pagiku Bersamamu

Oleh : Lisa Aiko

Sore itu aku duduk termenung di kafe itu, aku tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dengan perasaanku,makin hari makin ga jelas tiap kali aku akan bertemu dengannya,aku menunggunya dengan gejolak di hati yang entah tidak dapat kulukiskan. Cindy, sahabatku, meminum dan menghabiskan es teh nya dengan santai sambil sesekali membuka gadget nya.

"Cin,kok mereka lama banget sih? Bukannya kita rencana mau nobar yah? Aduh itu tiketnya udah mau habis nih,gimana?" Cindy menatapku dengan santai, "Haish,santai aja Angelll,dia pasti datang kok!" kata Cindy sambil tersenyum geli. Aku terkejut ," Hah? Apa maksudmu,Cindy? Aku ga ngerti deh!" jawabku. Sambil terseyum Cindy tiba-tiba meliriku seraya berkata, "Tuh,dateng tuh!" Sejenak aku tak mengerti maksudnya,dan ternyata dari arah depan kulihat serombongan siswa berpakaian seragam sekolah berjalan beriringan menuju ke arah kami, dan tampak...dia..Jovan..tersenyum ke arahku.Entah apa yang kurasakan di dalam hatiku,namun aku berusaha untuk bersikap biasa.

"Hai gaes, sini sini!" seruku pada mereka.Mereka mendekat ke arah kami. Setelah kami berkumpul, kami duduk bareng di pojok kafe itu dengan santai. Mereka berempat,ditambah kami berdua,total kami berenam."Gaes,sori , mau info nih..kita kayaknya ga jadi nonton deh, soalnya ini dah telat banget,sori banget tadi ada rapat di ekskul ku" Jovan tampak berusaha menjelaskan dengan tenang. Rian, yang dari tadi diam,tampak ingin mengatakan sesuatu. "Iya gaes,sori,tadi kita rapat dulu untuk program baru di ekskul kita,so kita minta maaf ya." Aku dan Cindy tersenyum,dan tampaknya Cindy ingin aku bicara mewakili kami. "Ga papa sih,kita oke aja kok..it's oke" kataku sambil tersenyum. "Kalau gitu,kita jalan aja yuk, kayaknya Rian, Fael dan Hesa mau beli barang tuh di KKP" kata Jovan. Dan akhirnya kami jalan bareng.

Kami berenam jalan ke KKP, dan sesampainya di sana masing-masing sibuk memilih barang yang ingin mereka beli. Aku tak tahu harus bagaimana, jadi aku hanya berdiri sambil melihat-lihat sekeliling. Tiba-tiba Jovan berkata , "Angel..kamu suka apa?" Aku terkejut . "Aku..aku suka semua sih hehehe " jawabku bingung. "Hmmmm..kamu suka boneka imut?" katanya sekali lagi. "Hah maksudmu?" tanyaku sekali lagi. "Yahhhh..kamu kan kecil, jadi aku ingin beliin kamu boneka yang mirip kamu nih!" katanya sambil mengambil satu boneka imut warna putih. "Angel..kmu mirip dia nih hahahaha!" seru Jovan sambil tertawa. "Hah?????" seruku sambil terkejut. "Tapi..tapi...." aku berusaha mencegahnya,namun dia sudah berlari ke kasir. Aku mengikutinya dari belakang. Setelah dia membayar, segera dia menghampiriku dan memberiku bungkus warna kuning itu,wadah gift dengan brand dari toko tersebut. "Buat kamu,Angel!" serunya . "Wow..thanks ya!" kataku senang. "Nah..udah jangan sedih lagi,aku tau kamu lagi galau kan,gara-gara nilai ulangan matematikamu ga sesuai ekspetasi hahaha" katanya ceria.

Aku hanya menatap Jovan sambil terharu. Dia,sahabatku,orang yang paling mengerti aku. Ada banyak pagi dan senja yang kami lewati bersama.Ga cuma karena kami sering bertengkar dan baikan lagi,tapi tiap pagi saat jam istirahat,dan saat sore sepulang sekolah,kami selalu bertemu juga seperti ini,tentunya dengan teman-teman kami yang lain,namun memang hubungan antara aku dan Jovan sedikit lebih dekat daripada dengan teman yang lain,maklum kami memiliki hobby yang sama,yaitu musik.

Ada suka duka yang kita alami bersama. Masa-masa sekolah seperti ini yang tidak akan pernah kulupakan. Aku belajar arti persahabatan,ketulusan dan kejujuran. Aku tak ingin mewarnai dan menodai persahabatan kami dengan perasaan yang ga jelas yang mulai muncul dalam hatiku.Aku hanya berharap kita dapat terus berteman hingga nanti kami tumbuh dewasa.


No comments:

Post a Comment

Ketika Pikiran Menjadi Takdir : Self Fulfilling Prophecy dalam Membangun Harga Diri

Kreator : Lisa Aiko Ketika kita depresi, maka kita yakin bahwa kita sama sekali tidak berharga. Semakin buruk depresi, semakin kita merasaka...