Pages

Tuesday, January 6, 2026

Ketika Pikiran Menjadi Takdir : Self Fulfilling Prophecy dalam Membangun Harga Diri

Kreator : Lisa Aiko


Ketika kita depresi, maka kita yakin bahwa kita sama sekali tidak berharga. Semakin buruk depresi, semakin kita merasakan hal itu. Sesungguhnya kita tidak sendirian. Suatu penelitian terbaru yang dilakukan oleh Dr. Aaron Beck mengungkapkan bahwa lebih dari 80% pasien yang mengalami depresi menyatakan ketidaksukaan terhadap diri sendiri (self-dislike). Lebih lanjut Dr. Beck menemukan bahwa para pasien tersebut memandang diri mereka diri mereka sebagai orang-orang yang lemah dalam berbagai kualitas yang justru mereka nilai sangat tinggi, misalnya : intelegensi, prestasi, popularitas, daya tarik, kesehatan dan kekuatan. Ia mengatakan, gambaran diri orang yang mengalami depresi dapat ditandai oleh 4 D : kita merasa gagal (Defeated), kurang (Defective), tersingkir (Deserted), dan (Deprived).

Hampir semua reaksi emosional negatif adalah akibat dari rendahnya harga diri. Suatu citra diri (self image) yang buruk merupakan kaca pembesar yang dapat mengubah suatu kesalahan atau kekuarangan kecil menjadi simbol besar kekalahan atau kegagalan pribadi.

Saat seseorang mengalami hal tersebut, dia akan menunjukkan keyakinan betapa mengerikannya saat dicela, ditolak atau melakukan suatu kesalahan atau gagal. Rupanya dia yakin bahwa jika seseorang meremehkan dirinya, maka semua orang lain juga akan melakukan hal yang sama. Seolah-olah perkataan TELAH DITOLAK tiba-tiba ditempelkan pada dahinya agar bisa dilihat setiap orang. Agaknya ia tidak memiliki harga diri yang tidak tergantung pada pengakuan dan atau sukses yang diperolehnya. Ia mengukur dirinya dengan bagaimana orang lain memandang dia dan bukan dari apa yang telah ia capai. Jika kebutuhan akan pengakuan serta prestasi tidak terpuaskan, maka ia akan merasa bahwa bukan apa-apa.

Hal ini menjadi perenungan saya selama bertahun-tahun. Ada seorang kenalan saya, sebut saja Mawar, menilai dirinya demikian buruk. Dia merasa dirinya tidak pantas dicintai, dia buruk, dia tidak setia, dia merasa sangat tidak berharga, dan mengatakan bahwa dia ditolak. Tiap kali ada orang lain yang berbicara buruk tentang dia di belakangnya, atau langsung disampaikan ke dia, atau saat orang berbicara secara kasar kepadanya, maka dia menjadi sangat sedih dan menderita, bahkan dia merasa bahwa dirinya dibenci semua orang dan tidak diinginkan, dia telah DITOLAK! Dan berujung dengan satu dendam tak logis, dia melakukan banyak hal hanya untuk membuktikan bahwa dia hebat, dia luar biasa dan tak seharusnya dia ditolak. Namun dia selalu merasa bahwa dirinya kurang pandai, kurang hebat, bahkan menjadi satu-satunya pribadi yang tidak bisa melakukan apapun.Ketika ditanya, untuk siapa dia ingin membuktikan semuanya, maka dia tak bisa menjawabnya. Dia mengukur dirinya bagaimana orang lain memandang dia dan bukan dari apa yang telah ia capai. Ketika bahkan saudara-saudara mengatakan bahwa tak seharusnya dia mempedulikan perkataan orang lain yang telah berbicara buruk mengenai dirinya atau orang yang mengolok-oloknya dan saudara- saudaranya mengatakan dia hebatpun, dia bahkan tak bisa mempercayainya.

Seperti itulah dia memandang rendah dirinya. Baginya, hal ini sangat realistis meski kita berpikir bahwa dorongan perfeksionisnya dalam berprestasi serta kebutuhannya akan pengakuan akan menjatuhkan dirinya sendiri serta tidak realistis.

Pada dasarnya, untuk mendapatkan harga diri yang benar memang tidak seharusnya berdasarkan kecantikan, ketampanan, kekuatan, kekuasaan. ataupun kekayaan. Seharusnya, kebahagiaan kita bukan berdasarkan semua itu, citra diri kita juga tidak bisa didapatkan melalui semua itu. Kita tidak bisa menilai diri kita berdasarkan kehebatan kita atau  apa yang kita lakukan dan hal-hal tadi. Lalu, bagaimana cara mendaptakan citra diri yang benar? Beberapa mungkin berkata, saya lemah dan tak sebaik orang lain seperti yang mereka katakan tentang saya.

Salah satu ciri khas terapi kognitif adalah bahwa terapi ini sama sekali menolak pengakuan rasa tidak berharga kita. Terapi kognitif ini menuntun para pasien menilai kembali (reevaluasi) citra negatif diri pasien secara sistematis. 


Mengatasi Perasaan Tidak Berharga

Pada saat ini mungkin kita akan berkata : "baiklah, aku dapat melihat bahwa ada suatu ketidaklogisan di balik perasaan tidak berharga. Sekurang-kurangnya bagi beberapa orang. Namun mereka kan pada dasarnya adalah orang hebat, orang yang ditakdirkan selalu jadi pemenang, ditadirkan sukses, beruntung, mereka kan tidak seperti aku.Aku ini bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Kenyataannya mereka semua lebih hebat, lebih muda, lebih cekatan, lebih pandai, dan lebih sukses. Lalu apa yang dapat aku lakukan? Aku ini nol besar!Perasaan tidak berharga milikku ini sah, wajar, karena berdasarkan kenyataan!"

Para ahli psikoterapis mungkin meminta kita menumpahkan atau melepaskan semua uneg-uneg kita. Pelepasan uneg-uneg tersebut biasa disebut katarsis, kadangkala walau tidak selalu, dapat mengurasi murung kita. Katarsis saja sebenarnya tidak cukup untuk mengatasi rasa tidak berharga kita. 


Metode Spesifik untuk Mengangkat Harga Diri


Bantahlah kritik batin Anda!

Perasaan ketidakberhargaan diciptakan oleh kritik dari batin Anda sendiri. Ia berupa pernyataan-pernyataan yang merendahkan diri, "Saya jelek", "Saya bodoh", "Saya tidak kretif", "saya tua dan sakit-sakitan", "Saya merepotkan", dan seterusnya. Untuk mengatasi kebiasaan mental seperti ini, diperlukan langkah berikut :

1. Latihlah diri Anda untuk mengenali serta mencatat pemikiran-pemikiran yang sifatnya mencela atau mengkritik pada saat hal itu melintas di benak Anda

2. Pelajarilah apa sebab pikiran-pikiran  ini terdistorsi

3. Praktekkanlah membantah semua itu untuk mengembangkan suatu sistem evaluasi diri yang lebih realistis.


Sebenarnya apa itu "Self Fulfilling Prophecy"?

Istilah self-fulfilling prophecy pertama kali diperkenalkan oleh Robert K. Merton (1948), seorang sosiolog, yang menjelaskan bahwa keyakinan awal—baik benar maupun salah—dapat memengaruhi perilaku seseorang sehingga keyakinan itu benar-benar terwujud. Dengan kata lain, apa yang kita yakini memengaruhi cara kita bertindak, dan tindakan itulah yang membentuk hasil hidup kita.

Dalam konteks psikologi, terutama terapi kognitif, konsep ini menjadi sangat relevan karena berkaitan langsung dengan harga diri (self-esteem).

Hubungan Pikiran, Harga Diri, dan Perilaku

Menurut Aaron T. Beck, pencetus Cognitive Therapy, manusia memiliki automatic thoughts—pikiran spontan yang sering kali tidak disadari. Jika seseorang memiliki skema kognitif negatif tentang diri sendiri (“Aku tidak berharga”, “Aku selalu gagal”), maka pikiran itu akan:

  1. Menurunkan rasa percaya diri

  2. Mendorong perilaku menghindar

  3. Memperkuat pengalaman kegagalan

Siklus ini akhirnya memperkuat harga diri yang rendah, seolah-olah membenarkan keyakinan awal tadi.

Beck menegaskan bahwa bukan peristiwa yang menentukan perasaan kita, melainkan cara kita menafsirkan peristiwa tersebut.


Harga Diri dan Keyakinan tentang Diri

Carl Rogers, tokoh psikologi humanistik, menyatakan bahwa setiap manusia memiliki kebutuhan mendasar akan positive self-regard (penerimaan diri positif). Ketika seseorang tumbuh dengan penilaian negatif—baik dari lingkungan, pengalaman masa lalu, maupun dialog batin—maka ia cenderung membangun citra diri yang rapuh.

Harga diri yang rendah membuat seseorang:

  • Takut mencoba

  • Mudah menyerah

  • Merasa tidak layak berhasil

Tanpa disadari, pola ini menjadi nubuat yang terpenuhi dengan sendirinya.

Peran Terapi Kognitif: Mengubah Takdir lewat Pikiran

Di sinilah terapi kognitif berperan penting. Melalui proses restrukturisasi kognitif, klien diajak untuk:

  • Mengenali pikiran negatif otomatis

  • Menguji kebenaran pikiran tersebut

  • Menggantinya dengan pikiran yang lebih realistis dan adaptif

Menurut Albert Ellis (Rational Emotive Behavior Therapy), bukan peristiwa A (Activating Event) yang menyebabkan emosi C (Consequence), melainkan keyakinan B (Belief). Saat keyakinan diubah, reaksi emosional dan perilaku pun ikut berubah.

Ketika seseorang mulai berpikir, “Saya memang belum berhasil, tapi saya mampu belajar,” maka perilakunya akan berubah: lebih berani mencoba, lebih terbuka terhadap proses, dan lebih tahan terhadap kegagalan. Perlahan, harga diri pun bertumbuh secara sehat.


Dari Nubuat Negatif ke Nubuat Positif

Kabar baiknya, self-fulfilling prophecy tidak selalu bersifat negatif. Para psikolog sepakat bahwa keyakinan positif yang realistis dapat menciptakan positive self-fulfilling prophecy. Martin Seligman, tokoh psikologi positif, menekankan pentingnya learned optimism—belajar melihat diri dan masa depan secara lebih konstruktif.

Ketika pikiran diarahkan untuk mendukung pertumbuhan, maka pikiran itu tidak lagi menjadi penjara, melainkan jembatan menuju pemulihan dan perkembangan diri.

Harga diri bukanlah sesuatu yang terbentuk dalam semalam, tetapi dibangun dari narasi yang terus kita ulang tentang diri sendiri. Terapi kognitif mengajarkan bahwa dengan mengubah cara berpikir, kita sedang mengubah arah hidup.

Karena pada akhirnya, ketika pikiran berubah, takdir pun ikut bergerak.


Referensi :

  • Beck Aaron T. Depression : Clinical, Experimental, & Theoritical Aspects. New York : Hoeber, 1967. (Dipublikasi ulang sebagi Depression : Causes and a Treatment . Philadelphia : University of Pennsylvania Press, 1972, halaman 17 - 23)
  • Merton, R. K. (1948).
    The self-fulfilling prophecy.
    The Antioch Review, 8(2), 193–210.
    → Sumber klasik yang pertama kali memperkenalkan konsep self-fulfilling prophecy.

  • Beck, A. T. (1976).
    Cognitive Therapy and the Emotional Disorders.
    New York: International Universities Press.
    → Dasar teori terapi kognitif tentang pikiran otomatis, skema kognitif, dan harga diri.

  • Beck, A. T., Rush, A. J., Shaw, B. F., & Emery, G. (1979).
    Cognitive Therapy of Depression.
    New York: Guilford Press.
    → Hubungan pikiran negatif, harga diri rendah, dan pola perilaku maladaptif.

  • Ellis, A. (1962).
    Reason and Emotion in Psychotherapy.
    New York: Lyle Stuart.
    → Konsep ABC Model (Activating Event–Belief–Consequence) dalam REBT.

  • Rogers, C. R. (1951).
    Client-Centered Therapy.
    Boston: Houghton Mifflin.
    → Konsep self-concept dan positive self-regard dalam pembentukan harga diri.

  • Rosenberg, M. (1965).
    Society and the Adolescent Self-Image.
    Princeton, NJ: Princeton University Press.
    → Referensi klasik tentang konsep dan pengukuran self-esteem.

  • Seligman, M. E. P. (1991).
    Learned Optimism.
    New York: Knopf.
    → Peran keyakinan dan optimisme dalam membentuk hasil hidup dan kesejahteraan psikologis.

  • Corey, G. (2017).
    Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy (10th ed.).
    Boston: Cengage Learning.
    → Integrasi terapi kognitif, REBT, dan humanistik dalam praktik konseling.

Wednesday, November 5, 2025

Tontonan Indah di Sebuah Kelas

 Tontonan Indah di Sebuah Kelas


Penulis : Lisa Aiko


Di antara keriuhan celotehan mereka

Kulihat pelangi dalam sorotan bening 

Netra mereka seolah berujar

“Aku ingin terbang, jangan hentikan aku!”

Angin berbisik dengan nada 

“Lihatlah mereka, panah muda dengan bara”

Dengan ujud riang yang melesat jauh

Tak pura-pura ceritanya


Seolah bumi mendengar bisikan pasir

Mengharu biru tontonan bermusim

Tak bergeming melihat polah lugu penuh mimpi

Bermain drama dalam satu kilas balik


Seperti menonton pertunjukan

Ketika sang pencerita membacakan kisah

Segmen dan fragmen telah dimulai

Suatu awalan tanpa imbuhan


Gambaran melihat takjub

Tayangan indah dalam lukisan

Yang memancar dari benak 

Berandai-andai di masa depan

Berjumpa dengan tulisan yang mungkin telah berubah wujud


Meski harap digenapi mimpi

Yang ditorehkan dari masa muda

Saat hidup menguji mereka

Akankah mereka tetap menjadi diri mereka 

yang hari ini begitu indah?


Sang Pemimpi..masihkah kamu penuh harap

Bila penamu berhenti berbicara

Monday, September 8, 2025

Chat GPT di Sekolah : Membantu Siswa Belajar atau Justru Mempermudah Jalan Pintas

Kreator : Lisa Aiko

Digitalisasi makin menjadi, termasuk di dunia pendidikan. "Mesin Pintar Masuk Kelas", begitulah Chat GPT bagi para siswa. Anak-anak dapat menyelesaikan tugas esai hanya dalam hitungan menit—cukup dengan menuliskan perintah atau prompt di ChatGPT. Tapi di balik kemudahan itu, para guru mulai bertanya-tanya: "Apakah ini hasil pemikiran siswa, atau buatan mesin pintar?"

Kehadiran kecerdasan buatan (AI), terutama ChatGPT, telah mengubah cara belajar banyak siswa. Mereka kini bisa mencari penjelasan rumit, merangkum materi, atau bahkan menulis puisi hanya dengan beberapa klik. Tapi di balik manfaat itu, muncul kekhawatiran: apakah siswa benar-benar belajar, atau sekadar mengandalkan mesin?

Antara Belajar dan Menyalin

Salah satu guru Bahasa Indonesia di sebuah SMA sering merasa ada yang janggal saat membaca tugas muridnya. "Tulisannya memang bagus, terstruktur, dan rapi. Tapi saat ditanya maksudnya, si murid bingung menjawab,' ujarnya.

"Kayaknya bagus banget, tapi rasanya hambar. Waktu saya tanya bagian tertentu, anaknya malah tidak paham," ujarnya sambil menghela napas.

Fenomena ini mulai marak: siswa bukan mencontek dalam arti klasik, tapi mereka menyerahkan proses berpikir ke mesin. Mereka menyelesaikan tugas, tapi tanpa benar-benar memproses isi pelajaran dalam pikiran mereka, dan mereka sangat bahagia dengan kehadiran AI ini.

AI-ku, Bestie-ku : Saat AI Jadi Teman Belajar

Namun tidak semua siswa menyalahgunakan teknologi. Sakura (nama samaran), siswa kelas 12, justru merasa terbantu.

"Kadang saya kurang paham dengan penjelasan dari buku atau guru. ChatGPT bisa bantu jelaskan dengan bahasa yang lebih mudah," katanya. "Tapi saya tetap baca buku juga, kok, dan saya tidak mencari jawaban ujian dari AI, karena bagi saya AI hanya membantu dalam proses belajar namun AI bukan jawaban."

Teknologi bisa sangat membantu, selama digunakan dengan bijak. Tapi memang, tidak semua siswa bisa membedakan batas antara ‘dibantu’ dan ‘mengandalkan sepenuhnya’.

Nasib Guru : Bertahan atau Tergantikan?

Di tengah gempuran teknologi, para guru ditantang untuk beradaptasi. Bukan dengan menolak AI, tapi dengan mengajarkan cara menggunakannya secara etis dan bertanggung jawab.

Saya berpikir, belajar itu bukan hanya soal nilai, tapi Proses  belajarnya. Kita perlu tahu bagaimana siswa berpikir, merespon, mengambil keputusan,bukan hanya apa hasil akhirnya. Akhir-akhir ini karena anak-anak tergantung dengan AI, mereka menjadi malas berpikir dan akibatnya akan berpengaruh terhadap critical thinking siswa.

Beberapa sekolah mulai meminta siswa menunjukkan langkah-langkah pemikirannya dalam tugas, bukan sekadar mengumpulkan jawaban akhir. Ada juga yang mulai menerapkan diskusi dan presentasi sebagai bentuk penilaian, bahkan di banyak universitas top di Indonesia mulai menerapkan tugas-tugas tertulis untuk melihat critica

Dikendalikan atau Mengendalikan

Teknologi diciptakan dengan tujuan awal untuk membantu manusia, demikian pula Chat GPT. AI bukan musuh. Ia hanya alat. Seperti pisau, ia bisa membantu atau melukai—tergantung siapa yang menggunakannya dan untuk apa. Siswa harus belajar bahwa untuk menggunakan teknologi ada yang namanya etika dan kebijaksanaan digital. Teknologi diciptakan oleh manusia, maka seharusnya manusia mengendalikan teknologi, dan bukan sebaliknya.

Karena kita hidup di jaman yang terus berkembang secara teknologi, maka kita tidak bisa lepas dari teknologi.  Satu hal yang bisa kita lakukan adalah memastikan kita tidak kehilangan semangat untuk berpikir, bertanya, terus belajar dengan jujur, dan menjadi diri sendiri.


Tuesday, February 4, 2025

LATIHAN

 Latihan menulis ceerpen 


REFENSI

REFERNSI

Salmaa Menulis: Pengertian, Tujuan, Fungsi, Manfaat dan Teknik Menulis, 2021 , https://penerbitdeepublish.com/menulis/

Wednesday, January 22, 2025

Gangguan Psikologi pada Masa Remaja : Ketika Dunia Mulai Terasa Rumit 1

 Kreator : Lisa Aiko


✔ Mengapa emosi sering sulit dikendalikan?

✔ Apakah overthinking itu normal?

✔ Bagaimana menghadapinya tanpa merasa sendirian?

✔ Bagaimana mengatasi insecure?

✔ Apa saja gangguan psikologi pada masa remaja?


✨ "Bagaimana tekanan dari lingkungan, pertemanan, dan ekspektasi diri membentuk cerita remaja yang penuh liku?"


🎭 Temukan Fakta & Solusi:

📖 Artikel ini mengupas  perjalanan psikologis remaja yang sering kali tak terlihat namun sangat berpengaruh. Jangan lewatkan kisah, wawasan, dan tips menarik untuk mendukung remaja melewati masa penuh tantangan! 🌟


Remaja adalah kelompok individu yang paling rentan mengalami gangguan mental. Sebab, banyak faktor risiko yang dihadapi remaja yang berpotensi memengaruhi kesehatan mental mereka.


Faktor-faktor yang dapat menyebabkan stres selama masa remaja antara lain :

1. keinginan besar untuk lebih mandiri,

2. tekanan saat menyesuaikan diri dengan teman sebaya

3. peningkatan akses dan penggunaan teknologi.

4. kondisi rumah tangga

5. kekerasan seksual yang rentan menimpa para remaja.

Lantas, jenis-jenis gangguan mental seperti apa yang rentan dialami para remaja? Ini contohnya. 


Jenis Gangguan Mental yang Rentan Dialami Remaja

Melansir dari WHO, berikut jenis-jenis gangguan mental yang rentan dialami oleh para remaja:

1. Gangguan Emosi

Gangguan emosi umumnya muncul pada masa remaja. Selain depresi atau kecemasan, remaja dengan gangguan emosi bisa mengalami sifat mudah marah, frustasi atau marah secara berlebihan. Selain gejala psikologis, gangguan emosi juga dapat menimbulkan gejala fisik, seperti sakit perut, sakit kepala, atau mual. Gangguan emosional bisa sangat memengaruhi kinerja di sekolahnya. Jika tidak segera ditangani, remaja yang mengalami gangguan emosi dapat mengalami gejala lebih buruk, seperti mengisolasi diri hingga punya pikiran bunuh diri.


2. Masalah Perilaku

Masalah perilaku pada masa kanak-kanak merupakan penyebab utama kedua gangguan mental pada remaja. Gangguan perilaku pada masa kanak-kanak contohnya ADHD yang ditandai dengan kesulitan fokus dan gangguan perilaku yang ditandai dengan perilaku merusak atau menantang. Masalah perilaku ini juga dapat memengaruhi kinerja sekolah dan berisiko menimbulkan perilaku kriminal pada remaja.


3. Gangguan Makan

Gangguan makan biasanya muncul pada masa remaja dan dewasa muda. Gangguan makan lebih sering menyerang wanita daripada pria. Contoh gangguan makan yang bisa dialami remaja adalah anoreksia nervosa, bulimia nervosa, dan gangguan makan yang ditandai dengan membatasi kalori atau makan berlebihan. Gangguan makan berisiko merusak kesehatan dan sering kali muncul bersamaan dengan depresi, kecemasan atau penyalahgunaan zat.


4. Psikosis

Gejala psikosis paling sering muncul pada akhir masa remaja atau awal masa dewasa. Gejala dapat berupa halusinasi atau delusi. Gejala ini dapat mengganggu kemampuan remaja untuk berpartisipasi dalam kehidupan sehari-hari dan memengaruhi kinerja sekolahnya. Psikosis juga bisa menimbulkan stigma negatif di masyarakat atau pelanggaran hak asasi manusia.


5. Menyakiti Diri Sendiri Hingga Bunuh Diri

Ada sejumlah faktor risiko yang memicu perilaku bunuh diri pada remaja. Misalnya, penggunaan alkohol yang berbahaya, pelecehan di masa kanak-kanak dan hambatan dalam mengakses perawatan mental. Selain itu, media sosial juga kini menjadi penyebab bunuh diri terbesar pada anak remaja. Pasalnya, media sosial bisa menuntut banyak hal pada anak remaja, seperti citra diri dan kehidupan yang cenderung konsumtif.


6. Perilaku Pengambilan Risiko

Para remaja juga rentan mengambil banyak risiko, seperti risiko melakukan hubungan seksual dini, merokok, minum alkohol, hingga penyalahgunaan narkoba. Tindakan kekerasan adalah perilaku pengambilan risiko yang dapat memengaruhi pencapaian pendidikan, cedera, keterlibatan dengan kejahatan, hingga kematian.

Krisis identitas adalah kondisi ketika seseorang kerap mempertanyakan berbagai hal yang berkaitan dengan identitas dirinya, seperti kepercayaan, nilai hidup, tujuan hidup, pengalaman, dan perasaan. Krisis identitas dapat dialami oleh semua orang, tapi lebih sering terjadi pada remaja yang masih mencari jati diri.


KRISIS IDENTITAS

Mengapa krisis identitas terjadi ?

adanya perubahan atau tekanan besar dalam hidup yang dapat menyebabkan seseorang menjadi stres,


Hal-hal yang menyebabkan krisis identitas :

1. saat mendapat atau kehilangan pekerjaan,

2. pensiun (post power syndrome)

3. baru menikah atau bercerai, (perubahan dalam hidup)

4. pindah rumah (berpisah dengan sahabat dan teman terdekat)

5. kehilangan orang yang dicintai.(meninggal atau pergi )

6.memiliki kondisi kesehatan mental tertentu,( seperti gangguan bipolar, depresi, dan gangguan kepribadian)


Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Gangguan Psikologi pada Masa Remaja : Ketika Dunia Mulai Terasa Rumit 1", Klik untuk baca:

https://www.kompasiana.com/aikochannel5183/6786385c34777c5aad321ab2/gangguan-psikologi-pada-masa-remaja-ketika-dunia-mulai-terasa-rumit-1?page=4&page_images=1

Kreator: LISA AIKO




Saturday, November 23, 2024

Wayang Orang dan Wayang Kertas, Kolaborasi Cerdas: Eagle School Semarang Hidupkan Budaya Lewat P5"



Semarang – Sebagai bagian dari implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), Eagle School Semarang mengadakan pagelaran Wayang Orang dan Wayang Kertas yang melibatkan kolaborasi siswa dari berbagai tingkatan kelas. Acara yang diselenggarakan dalam mata pelajaran Challenge ini menjadi bukti nyata sinergi antar siswa,guru dan seluruh elemen sekolah dalam menciptakan pembelajaran bermakna.


Wayang Kertas

Mata pelajaran Challenge di Eagle School Semarang mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu dalam bentuk project. Pagelaran Wayang Kertas dilakukan oleh siswa kelas VI, VII, X, dan XI bekerja sama dalam proses persiapan yang meliputi pembuatan wayang kertas, penulisan naskah, audio recording, dan latihan pementasan. Seluruh proses didampingi oleh guru pembimbing Challenge, Coach Dedi dan Coach Nana, guru bahasa Coach Aiko dan Coach Loren, guru pembimbing pembuatan properti Coach Agus C. serta guru-guru wali kelas masing-masing.


Kreativitas dalam Kolaborasi Antar Siswa dan Guru


Pembuatan wayang kertas dipandu oleh Coach Agus C., guru yang membimbing siswa dalam merancang dan membuat wayang kertas serta properti. Dalam sesi ini, siswa tidak hanya belajar keterampilan seni rupa, tetapi juga mengembangkan kreativitas. Tak hanya itu saja. Proses pembuatan wayang kertas ini membuat siswa makin mengenal budaya Indonesia terutama wayang dan juga siswa belajar berkolaborasi dalam menyatukan ide dan gagasan selama proses pembuatan wayang kertas ini.


Penulisan Naskah dan Dokumentasi Project


Penulisan naskah dan audio recording dipandu oleh Coach Aiko dan Coach Loren, guru bahasa Indonesia dan Seni Budaya yang juga membantu siswa menyusun dialog pementasan dalam bahasa Jawa. Bimbingan ini bertujuan untuk memperkenalkan dan melestarikan budaya lokal melalui seni pertunjukan.

Siswa kelas XI juga berperan besar dalam dokumentasi project. Mereka membuat vlog bertema "Perjalanan Menuju Pagelaran ", yang menjadi bagian dari tugas mata pelajaran bahasa Indonesia. Melalui vlog ini, mereka meliput proses pembuatan wayang, latihan, hingga pementasan.


Kelas IX dan Kelas XII : Panggung Wayang Orang dalam Implementasi P5


Tidak hanya siswa kelas VII,VIII,X,XI saja yang menampilkan pertunjukkan, namun siswa kelas IX dan XII juga turut serta mengimplementasikan P5 melalui pagelaran Wayang Orang. Dalam project ini, mereka juga bekerja sama untuk membuat properti di bawah bimbingan Coach Agus C., menyiapkan kostum-kostum wayang, serta menulis naskah dalam bahasa Jawa dan melakukan audio recording dengan arahan Coach Aiko dan Coach Loren seperti proses persiapan pagelaran wayang kertas. Mereka juga harus berlatih gerakan-gerakan tari yang sesuai dengan naskah yang mereka tulis. Selaku generasi global, tentu saja ada banyak rintangan dalam proses implementasi P5 ini, terutama dalam hal penulisan naskah dalam bahasa Jawa dan penuturan kata dalam bahasa Jawa, namun, semangat para siswa dan guru dalam menyelenggarakan acara ini tentu saja membuat segala rintangan tersebut menjadi motor penggerak untuk terus maju dan bergerak untuk mensukseskan acara ini.


Manfaat Implementasi P5 di Eagle School Semarang


Kegiatan ini memberikan banyak manfaat bagi siswa. Selain memperkuat nilai-nilai Pancasila seperti gotong royong, kreativitas, dan cinta budaya, siswa juga belajar keterampilan abad ke-21, seperti komunikasi, kolaborasi, dan pemecahan masalah.

“Proyek ini mengajarkan kami untuk bekerja sama dan menghargai proses,” ujar salah satu siswa. Sementara itu, seorang siswa dari kelas XI menambahkan, “Lewat pembuatan vlog tentang proses menuju Pagelaran wayang ini, saya belajar banyak tentang teks berita, reportase, liputan, menulis naskah dan public speaking. Ini pengalaman yang luar biasa.”


Kesimpulan

Pagelaran Wayang Kertas di Eagle School Semarang menjadi bukti nyata bagaimana P5 dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran berbasis project yang kolaboratif dan kreatif. Dengan dukungan guru dan antusiasme siswa, serta kolaborasi dengan berbagai elemen sekolah, kegiatan ini tidak hanya menjadi media pembelajaran, tetapi juga ajang untuk melestarikan budaya lokal sekaligus membangun karakter generasi muda yang tangguh dan inovatif.


Lisa Aiko

Wednesday, November 20, 2024

Pagelaran Wayang, Solusi Kreatif untuk Implementasi P5 dalam Pembelajaran Sekolah Menengah Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Pagelaran Wayang, Solusi Kreatif untuk Implementasi P5 dalam Pembelajaran Sekolah Menengah", Klik untuk baca: https://www.kompasiana.com/aikochannel5183/673a2d2634777c205d1666e2/pagelaran-wayang-solusi-kreatif-untuk-implementasi-p5-dalam-pembelajaran-sekolah-menengah Kreator: LISA AIKO Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com

 Semarang, 18 November 2024 — Dalam rangka mendukung implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), seni pagelaran wayang telah menjadi salah satu metode pembelajaran inovatif yang digunakan di sekolah menengah. Dengan menggabungkan seni tradisional dan pendidikan karakter, pagelaran wayang memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan berbagai keterampilan, termasuk berpikir kritis, kolaborasi, dan empati.


Pagelaran wayang sebagai bagian dari P5 bertujuan untuk memperkenalkan nilai-nilai Pancasila, seperti gotong royong, keberagaman, dan keadilan sosial, melalui cerita-cerita moral yang terkandung dalam lakon wayang. Siswa dapat terlibat langsung dalam berbagai aspek, mulai dari pembuatan wayang, penulisan naskah, hingga peran sebagai dalang atau pemain. Hal ini tidak hanya memperkaya pengetahuan budaya mereka, tetapi juga menumbuhkan rasa cinta terhadap warisan budaya Indonesia.


Penerapan P5 melalui pagelaran wayang juga dapat menyentuh berbagai isu sosial dan lingkungan yang relevan dengan kehidupan siswa saat ini. Misalnya, tema wayang yang diangkat dapat berkaitan dengan pentingnya menjaga keberlanjutan alam atau toleransi antar individu. Dengan cara ini, pembelajaran tidak hanya terfokus pada aspek akademis, tetapi juga pembentukan karakter yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.


Melalui metode ini, sekolah menengah tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga memberikan pengalaman belajar yang mendalam dan menyentuh nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Sebagai bentuk pembelajaran yang menarik dan menyeluruh, pagelaran wayang terbukti menjadi alat efektif dalam mengimplementasikan P5 di kalangan siswa.


Lisa Aiko


Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Pagelaran Wayang, Solusi Kreatif untuk Implementasi P5 dalam Pembelajaran Sekolah Menengah", Klik untuk baca:

https://www.kompasiana.com/aikochannel5183/673a2d2634777c205d1666e2/pagelaran-wayang-solusi-kreatif-untuk-implementasi-p5-dalam-pembelajaran-sekolah-menengah


Kreator: LISA AIKO


Ketika AI Bertemu Tradisi: Inovasi Digital untuk Melestarikan Budaya Indonesia

 

Ketika AI Bertemu Tradisi: Inovasi Digital untuk Melestarikan Budaya Indonesia

 

Kompasiana, Rabu, 20 November 2024

Oleh : Lisa Aiko

 

Artificial Intelligence (AI) semakin menjadi alat yang kuat untuk melestarikan dan menghidupkan kembali kekayaan budaya Indonesia. Teknologi ini memungkinkan dokumentasi, pengajaran, dan penyebaran budaya tradisional secara global dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam konteks budaya Indonesia, AI dapat memainkan peran besar, mulai dari pelestarian bahasa daerah hingga revitalisasi seni tradisional.

 

Pelestarian Bahasa dan Tradisi

AI digunakan untuk mendokumentasikan dan melestarikan bahasa-bahasa daerah yang terancam punah. Teknologi seperti Natural Language Processing (NLP) memungkinkan penerjemahan otomatis dan pengajaran bahasa daerah kepada generasi muda. Proyek serupa di negara lain menunjukkan bahwa AI dapat membantu merekam dan mengintegrasikan pengetahuan tradisional ke dalam sistem pembelajaran digital untuk memastikan kelestariannya

.

Revitalisasi Seni Tradisional
AI juga berperan dalam seni dan kerajinan tradisional. Algoritme AI mampu menganalisis pola batik atau ukiran tradisional dan membantu desainer modern menciptakan karya yang terinspirasi oleh warisan budaya ini. Selain itu, teknologi realitas virtual (VR) yang didukung AI dapat menghadirkan pengalaman interaktif, seperti tur virtual candi atau pementasan seni wayang, sehingga dapat menjangkau audiens global.

 

Kolaborasi Teknologi dan Komunitas Lokal

Meskipun AI membawa peluang besar, kolaborasi dengan komunitas lokal tetap penting. Pendekatan ini memastikan bahwa inovasi teknologi tidak hanya menghormati nilai budaya tetapi juga melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama dalam pelestarian tradisi mereka.

 

Dampak yang Lebih Luas

Integrasi AI dengan budaya tidak hanya membantu melestarikan warisan, tetapi juga meningkatkan kesadaran global tentang keberagaman budaya Indonesia. Inisiatif ini juga dapat mendukung ekonomi kreatif melalui produk-produk budaya yang diperkaya teknologi, sekaligus menarik perhatian generasi muda terhadap tradisi mereka.

Sebagai langkah ke depan, penting bagi pemerintah, akademisi, dan pelaku teknologi untuk bekerja sama memastikan bahwa inovasi digital ini digunakan secara etis dan inklusif. Dengan demikian, AI tidak hanya menjadi alat teknologi, tetapi juga jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan budaya Indonesia.

 

Referensi:

  • United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) tentang pelestarian bahasa dan budaya melalui teknologi17.
  • Brookings Institution mengenai aplikasi AI dalam berbagai sektor, termasuk pelestarian budaya18.

"Pentas Wayang Orang: Kreativitas Kelas 12 Eagle School dalam Melestarikan Budaya yang Nyaris Punah"

  

"Pentas Wayang Orang: Kreativitas Kelas 12 Eagle School dalam Melestarikan Budaya yang Nyaris Punah"

 

 Kompasiana, Rabu, 20 November 2024

Oleh : Lisa Aiko


         Kelas 12 menunjukkan dedikasi luar biasa dalam mempersiapkan pementasan wayang orang sebagai bagian dari implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Perjalanan ini bukan hanya melibatkan upaya fisik, tetapi juga mental dan kolaborasi kreatif.

Salah satu tantangan terbesar yang mereka hadapi adalah menerjemahkan naskah drama wayang orang ke dalam bahasa Jawa. Proses ini membutuhkan pemahaman mendalam tentang konteks budaya sekaligus kepekaan terhadap nuansa bahasa. Tidak hanya itu, merekam suara untuk kebutuhan lipsync saat pementasan memerlukan ketelitian tinggi agar hasilnya sesuai dengan ekspresi karakter.

Persiapan lainnya meliputi latihan gerakan wayang orang yang khas dan penuh makna. Gerakan ini tidak sekadar estetika, tetapi juga menyampaikan cerita yang sarat filosofi. Selain itu, membuat properti secara mandiri pun menjadi tantangan tersendiri, karena melibatkan kreativitas, ketekunan, dan pengelolaan sumber daya yang terbatas.

Menurut saya, upaya siswa kelas 12 ini adalah contoh nyata bagaimana seni tradisional dapat dihidupkan kembali oleh generasi muda terutama anak-anak muda di kelas 12 Eagle School. Proses kreatif ini juga memperlihatkan bagaimana P5 dapat mengintegrasikan nilai-nilai gotong royong, tanggung jawab, dan cinta budaya.

Namun, untuk mendukung upaya ini saya rasa akan lebih baik apabila ada pendampingan lebih lama dan intensif dari pelatih profesional untuk gerakan wayang orang, mengingat gerakan wayang orang adalah gerakan tari jawa/tradisional, yang tentunya tidak mudah bila hanya dipelajari dalam beberapa hari. Selain itu, kolaborasi dengan seniman lokal dapat memberikan inspirasi dan wawasan baru. Penyediaan fasilitas seperti bahan properti dan studio rekaman sederhana juga sangat membantu meningkatkan kualitas pementasan.Untuk itu pihak sekolah sudah sangat kooperatif dengan menyediakan kostum wayang orang dan banyak property, juga sekolah memfasilitasi dengan studio rekaman dimana mereka dapat melakukan rekaman di tempat yang baik.

Dengan dedikasi yang telah ditunjukkan, pementasan wayang orang ini tidak hanya menjadi sebuah pagelaran seni, tetapi juga pembelajaran bermakna yang memperkuat identitas budaya siswa. Semoga semangat ini terus hidup dan menginspirasi generasi berikutnya.

https://www.kompasiana.com/aikochannel5183/673d5955ed641523354f5062/pentas-wayang-orang-kreatifitas-kelas-12-eagle-school-dalam-melestarikan-budaya-yang-nyaris-

Sunday, July 7, 2024

Contoh Proposal Bisnis Sederhana-Materi Bahasa Indonesia

 

Proposal Bisnis Usaha Es Teh Jumbo

I. Pendahuluan

Dalam era modern ini, minuman dingin semakin digemari oleh berbagai kalangan. Es teh merupakan salah satu minuman yang sangat populer di Indonesia karena kesegarannya dan harganya yang terjangkau. Melihat peluang tersebut, kami bermaksud untuk membuka usaha es teh jumbo yang menyasar berbagai segmen pasar, mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa.

II. Tujuan Usaha

  1. Menyediakan minuman segar berkualitas tinggi dengan harga terjangkau.
  2. Menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.
  3. Mengembangkan inovasi minuman es teh yang unik dan menarik.
  4. Mendapatkan keuntungan finansial yang berkelanjutan.

III. Deskripsi Produk

Es Teh Jumbo adalah minuman es teh dalam kemasan besar yang dapat dinikmati oleh konsumen dengan berbagai varian rasa. Setiap varian memiliki keunikan tersendiri yang mampu menarik minat konsumen.

  1. Es Teh Original: Rasa teh asli yang menyegarkan.
  2. Es Teh Lemon: Kombinasi teh dengan perasan lemon segar.
  3. Es Teh Lychee: Teh dengan rasa buah leci yang manis dan segar.
  4. Es Teh Jasmine: Teh melati dengan aroma yang harum dan menenangkan.
  5. Es Teh Mint: Teh dengan tambahan daun mint untuk sensasi segar yang berbeda.

IV. Proses/Alur Produksi Usaha Es Teh Jumbo

1. Persiapan Bahan Baku

  • Pemilihan Teh: Memastikan teh yang digunakan adalah teh berkualitas tinggi.
  • Bahan Tambahan: Menyiapkan bahan tambahan seperti gula, lemon, lychee, melati, daun mint, dan bahan lain sesuai varian rasa.
  • Air: Menggunakan air bersih dan aman untuk konsumsi.

2. Penyimpanan Bahan Baku

  • Bahan baku disimpan di tempat yang bersih, kering, dan terlindung dari sinar matahari langsung.
  • Buah-buahan dan bahan segar lainnya disimpan di dalam lemari pendingin.

3. Proses Pembuatan Teh

  1. Pemasakan Air:
    • Memasak air hingga mendidih.
  2. Penyeduhan Teh:
    • Teh diseduh dengan air mendidih sesuai dengan takaran yang ditentukan untuk mendapatkan rasa teh yang optimal.
    • Biarkan teh terendam selama beberapa menit (biasanya 5-10 menit) hingga mendapatkan warna dan aroma yang diinginkan.
  3. Penyaringan:
    • Setelah teh diseduh, saring teh untuk memisahkan daun teh dari larutan teh.

4. Pencampuran Bahan Tambahan

  • Penambahan Gula: Menambahkan gula sesuai dengan resep masing-masing varian rasa.
  • Penambahan Buah dan Rasa:
    • Untuk varian lemon: Menambahkan perasan lemon.
    • Untuk varian lychee: Menambahkan sirup atau buah lychee.
    • Untuk varian jasmine: Menambahkan ekstrak melati.
    • Untuk varian mint: Menambahkan daun mint yang telah dicuci bersih.
  • Pengadukan: Aduk campuran hingga semua bahan tercampur merata.

5. Pendinginan

  • Teh yang telah dicampur dengan bahan tambahan didinginkan terlebih dahulu sebelum disajikan.
  • Menyimpan teh di dalam wadah tertutup dan ditempatkan di dalam lemari pendingin.

6. Penyajian

  • Kemasan:
    • Menggunakan kemasan jumbo yang menarik dan ramah lingkungan.
    • Menyediakan sedotan atau penutup kemasan yang sesuai.
  • Penambahan Es:
    • Menambahkan es batu ke dalam kemasan sebelum teh dituangkan.
    • Pastikan es batu yang digunakan berasal dari air bersih.
  • Penuangan Teh:
    • Teh yang sudah dingin dituangkan ke dalam kemasan yang telah disiapkan.

7. Distribusi

  • Penjualan di Gerai:
    • Menyajikan langsung kepada pelanggan yang datang ke gerai.
    • Mengatur antrian dan memastikan pelayanan yang cepat dan ramah.
  • Pengantaran:
    • Menyediakan layanan pengantaran untuk pesanan online.
    • Menggunakan kemasan khusus untuk menjaga kesegaran teh selama pengiriman.

8. Kebersihan dan Sanitasi

  • Menjaga kebersihan area produksi dan penyajian.
  • Mencuci peralatan dan wadah penyimpanan secara berkala.
  • Menggunakan sarung tangan, masker, dan apron selama proses produksi untuk menjaga higienitas.

9. Pengawasan Kualitas

  • Memastikan setiap batch produksi sesuai dengan standar kualitas yang telah ditetapkan.
  • Mencatat setiap keluhan atau masukan dari pelanggan untuk perbaikan produk di masa depan.

10. Pelaporan dan Evaluasi

  • Melakukan pelaporan harian mengenai jumlah produksi, penjualan, dan stok bahan baku.
  • Melakukan evaluasi mingguan atau bulanan untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produksi

V. Keunggulan Produk Es Teh Jumbo

  1. Ukuran Jumbo
    • Es Teh Jumbo menawarkan ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan produk es teh biasa, memberikan nilai lebih bagi konsumen yang mencari minuman menyegarkan dalam porsi besar.
  2. Varian Rasa yang Beragam
    • Produk ini menyediakan berbagai varian rasa seperti original, lemon, lychee, jasmine, dan mint, yang memberikan pilihan lebih banyak kepada konsumen dan memenuhi berbagai selera.
  3. Bahan Baku Berkualitas
    • Menggunakan teh berkualitas tinggi dan bahan tambahan alami seperti buah segar dan daun mint, memastikan rasa yang autentik dan nikmat.
  4. Harga Terjangkau
    • Meskipun memiliki ukuran yang lebih besar dan bahan baku berkualitas, Es Teh Jumbo tetap menawarkan harga yang kompetitif dan terjangkau bagi berbagai kalangan konsumen.
  5. Kemasan Menarik dan Ramah Lingkungan
    • Kemasan jumbo yang digunakan tidak hanya menarik secara visual tetapi juga ramah lingkungan, mendukung tren konsumsi yang lebih bertanggung jawab.
  6. Proses Produksi Higienis
    • Proses produksi dilakukan dengan standar kebersihan yang tinggi, menjamin produk yang higienis dan aman untuk dikonsumsi.
  7. Strategi Pemasaran Inovatif
    • Menggunakan promosi media sosial, kerjasama dengan influencer, dan berbagai diskon serta promo menarik untuk meningkatkan awareness dan menarik lebih banyak konsumen.
  8. Lokasi Strategis
    • Gerai ditempatkan di lokasi strategis seperti dekat sekolah, kampus, pusat perbelanjaan, dan tempat wisata, sehingga mudah diakses oleh target pasar.
  9. Layanan Pengantaran
    • Menyediakan layanan pengantaran untuk pesanan online, memberikan kemudahan bagi konsumen yang ingin menikmati es teh segar tanpa harus datang langsung ke gerai.
  10. Pelayanan Ramah dan Cepat
    • Fokus pada pelayanan pelanggan yang ramah dan cepat, memberikan pengalaman positif yang meningkatkan loyalitas konsumen.

Keunggulan-keunggulan ini menjadikan Es Teh Jumbo pilihan yang menarik dan kompetitif di pasar minuman dingin, mampu bersaing dengan produk-produk serupa dan memenangkan hati konsumen.

VI.. Analisis Pasar

Target Pasar:

  1. Pelajar dan Mahasiswa
  2. Pekerja kantoran
  3. Keluarga
  4. Wisatawan

VII. Analisis SWOT:

  • Kekuatan/Strengths:
    • Produk inovatif dan unik.
    • Harga terjangkau.
    • Kualitas bahan baku yang baik.
  • Kelemahan/Weaknesses:
    • Memerlukan promosi yang intensif pada awal usaha.
    • Ketergantungan pada cuaca panas untuk peningkatan penjualan.
  • Peluang/Opportunities:
    • Tren minuman dingin yang terus meningkat.
    • Potensi pengembangan produk dan varian rasa baru.
  • AncamanThreats:
    • Persaingan dengan produk sejenis.
    • Fluktuasi harga bahan baku.

VIII. Rencana Operasional

Lokasi Usaha: Gerai akan dibuka di lokasi strategis seperti dekat sekolah, kampus, pusat perbelanjaan, dan tempat wisata.

Jam Operasional: Setiap hari, pukul 10:00 - 22:00.

Proses Produksi:

  1. Persiapan bahan baku (teh, gula, buah-buahan, dll).
  2. Pembuatan teh dan pencampuran bahan-bahan tambahan.
  3. Penyajian dalam kemasan jumbo yang menarik.
  4. Penyimpanan di tempat pendingin untuk menjaga kesegaran.

Sumber Daya Manusia:

  1. Manajer Operasional
  2. Koki/Barista
  3. Kasir
  4. Pelayan

IX. Rencana Pemasaran

  1. Promosi Media Sosial:
    • Instagram, Facebook, TikTok.
    • Menggunakan influencer untuk promosi.
  2. Diskon dan Promo:
    • Diskon pembukaan.
    • Promo beli 1 gratis 1 pada hari tertentu.
  3. Kemitraan:
    • Kerjasama dengan sekolah, kampus, dan perusahaan untuk penyediaan minuman pada acara tertentu.
  4. Banner dan Brosur:
    • Penempatan banner dan distribusi brosur di lokasi strategis.

X. Estimasi Biaya dan Pendapatan

Biaya Awal:

Komponen

Biaya (Rp)

Sewa Tempat

20.000.000

Renovasi dan Dekorasi

15.000.000

Peralatan dan Mesin

10.000.000

Bahan Baku Awal

5.000.000

Gaji Karyawan Bulanan

8.000.000

Promosi dan Pemasaran

7.000.000

Lain-lain

5.000.000

Total

70.000.000

Pendapatan Bulanan (Estimasi):

Komponen

Pendapatan (Rp)

Penjualan Harian (300 cup @ Rp10.000)

90.000.000

Total Pendapatan Bulanan

90.000.000

Biaya Operasional Bulanan:

Komponen

Biaya (Rp)

Gaji Karyawan

8.000.000

Bahan Baku Bulanan

15.000.000

Listrik dan Air

2.000.000

Promosi dan Pemasaran

3.000.000

Lain-lain

2.000.000

Total Biaya Bulanan

30.000.000

Keuntungan Bersih Bulanan:

Komponen

Biaya (Rp)

Total Pendapatan Bulanan

90.000.000

Total Biaya Operasional

30.000.000

 

XI. Target penjualan per Tahun

Target Penjualan Per Tahun=Pendapatan Bulanan×12

 

Target Penjualan Per Tahun=90.000.000×12=1.080.000.000

 

Jadi, target penjualan per tahun adalah Rp 1.080.000.000.


·         Apabila kalian mendapatkan investor untuk usaha/bisnis kalian, sebutkan juga estimasi keuntungan untuk investor


Ketika Pikiran Menjadi Takdir : Self Fulfilling Prophecy dalam Membangun Harga Diri

Kreator : Lisa Aiko Ketika kita depresi, maka kita yakin bahwa kita sama sekali tidak berharga. Semakin buruk depresi, semakin kita merasaka...