Pages

Monday, September 8, 2025

Chat GPT di Sekolah : Membantu Siswa Belajar atau Justru Mempermudah Jalan Pintas

Kreator : Lisa Aiko

Digitalisasi makin menjadi, termasuk di dunia pendidikan. "Mesin Pintar Masuk Kelas", begitulah Chat GPT bagi para siswa. Anak-anak dapat menyelesaikan tugas esai hanya dalam hitungan menit—cukup dengan menuliskan perintah atau prompt di ChatGPT. Tapi di balik kemudahan itu, para guru mulai bertanya-tanya: "Apakah ini hasil pemikiran siswa, atau buatan mesin pintar?"

Kehadiran kecerdasan buatan (AI), terutama ChatGPT, telah mengubah cara belajar banyak siswa. Mereka kini bisa mencari penjelasan rumit, merangkum materi, atau bahkan menulis puisi hanya dengan beberapa klik. Tapi di balik manfaat itu, muncul kekhawatiran: apakah siswa benar-benar belajar, atau sekadar mengandalkan mesin?

Antara Belajar dan Menyalin

Salah satu guru Bahasa Indonesia di sebuah SMA sering merasa ada yang janggal saat membaca tugas muridnya. "Tulisannya memang bagus, terstruktur, dan rapi. Tapi saat ditanya maksudnya, si murid bingung menjawab,' ujarnya.

"Kayaknya bagus banget, tapi rasanya hambar. Waktu saya tanya bagian tertentu, anaknya malah tidak paham," ujarnya sambil menghela napas.

Fenomena ini mulai marak: siswa bukan mencontek dalam arti klasik, tapi mereka menyerahkan proses berpikir ke mesin. Mereka menyelesaikan tugas, tapi tanpa benar-benar memproses isi pelajaran dalam pikiran mereka, dan mereka sangat bahagia dengan kehadiran AI ini.

AI-ku, Bestie-ku : Saat AI Jadi Teman Belajar

Namun tidak semua siswa menyalahgunakan teknologi. Sakura (nama samaran), siswa kelas 12, justru merasa terbantu.

"Kadang saya kurang paham dengan penjelasan dari buku atau guru. ChatGPT bisa bantu jelaskan dengan bahasa yang lebih mudah," katanya. "Tapi saya tetap baca buku juga, kok, dan saya tidak mencari jawaban ujian dari AI, karena bagi saya AI hanya membantu dalam proses belajar namun AI bukan jawaban."

Teknologi bisa sangat membantu, selama digunakan dengan bijak. Tapi memang, tidak semua siswa bisa membedakan batas antara ‘dibantu’ dan ‘mengandalkan sepenuhnya’.

Nasib Guru : Bertahan atau Tergantikan?

Di tengah gempuran teknologi, para guru ditantang untuk beradaptasi. Bukan dengan menolak AI, tapi dengan mengajarkan cara menggunakannya secara etis dan bertanggung jawab.

Saya berpikir, belajar itu bukan hanya soal nilai, tapi Proses  belajarnya. Kita perlu tahu bagaimana siswa berpikir, merespon, mengambil keputusan,bukan hanya apa hasil akhirnya. Akhir-akhir ini karena anak-anak tergantung dengan AI, mereka menjadi malas berpikir dan akibatnya akan berpengaruh terhadap critical thinking siswa.

Beberapa sekolah mulai meminta siswa menunjukkan langkah-langkah pemikirannya dalam tugas, bukan sekadar mengumpulkan jawaban akhir. Ada juga yang mulai menerapkan diskusi dan presentasi sebagai bentuk penilaian, bahkan di banyak universitas top di Indonesia mulai menerapkan tugas-tugas tertulis untuk melihat critica

Dikendalikan atau Mengendalikan

Teknologi diciptakan dengan tujuan awal untuk membantu manusia, demikian pula Chat GPT. AI bukan musuh. Ia hanya alat. Seperti pisau, ia bisa membantu atau melukai—tergantung siapa yang menggunakannya dan untuk apa. Siswa harus belajar bahwa untuk menggunakan teknologi ada yang namanya etika dan kebijaksanaan digital. Teknologi diciptakan oleh manusia, maka seharusnya manusia mengendalikan teknologi, dan bukan sebaliknya.

Karena kita hidup di jaman yang terus berkembang secara teknologi, maka kita tidak bisa lepas dari teknologi.  Satu hal yang bisa kita lakukan adalah memastikan kita tidak kehilangan semangat untuk berpikir, bertanya, terus belajar dengan jujur, dan menjadi diri sendiri.


Ketika Pikiran Menjadi Takdir : Self Fulfilling Prophecy dalam Membangun Harga Diri

Kreator : Lisa Aiko Ketika kita depresi, maka kita yakin bahwa kita sama sekali tidak berharga. Semakin buruk depresi, semakin kita merasaka...