Pages

Saturday, November 23, 2024

Wayang Orang dan Wayang Kertas, Kolaborasi Cerdas: Eagle School Semarang Hidupkan Budaya Lewat P5"



Semarang – Sebagai bagian dari implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), Eagle School Semarang mengadakan pagelaran Wayang Orang dan Wayang Kertas yang melibatkan kolaborasi siswa dari berbagai tingkatan kelas. Acara yang diselenggarakan dalam mata pelajaran Challenge ini menjadi bukti nyata sinergi antar siswa,guru dan seluruh elemen sekolah dalam menciptakan pembelajaran bermakna.


Wayang Kertas

Mata pelajaran Challenge di Eagle School Semarang mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu dalam bentuk project. Pagelaran Wayang Kertas dilakukan oleh siswa kelas VI, VII, X, dan XI bekerja sama dalam proses persiapan yang meliputi pembuatan wayang kertas, penulisan naskah, audio recording, dan latihan pementasan. Seluruh proses didampingi oleh guru pembimbing Challenge, Coach Dedi dan Coach Nana, guru bahasa Coach Aiko dan Coach Loren, guru pembimbing pembuatan properti Coach Agus C. serta guru-guru wali kelas masing-masing.


Kreativitas dalam Kolaborasi Antar Siswa dan Guru


Pembuatan wayang kertas dipandu oleh Coach Agus C., guru yang membimbing siswa dalam merancang dan membuat wayang kertas serta properti. Dalam sesi ini, siswa tidak hanya belajar keterampilan seni rupa, tetapi juga mengembangkan kreativitas. Tak hanya itu saja. Proses pembuatan wayang kertas ini membuat siswa makin mengenal budaya Indonesia terutama wayang dan juga siswa belajar berkolaborasi dalam menyatukan ide dan gagasan selama proses pembuatan wayang kertas ini.


Penulisan Naskah dan Dokumentasi Project


Penulisan naskah dan audio recording dipandu oleh Coach Aiko dan Coach Loren, guru bahasa Indonesia dan Seni Budaya yang juga membantu siswa menyusun dialog pementasan dalam bahasa Jawa. Bimbingan ini bertujuan untuk memperkenalkan dan melestarikan budaya lokal melalui seni pertunjukan.

Siswa kelas XI juga berperan besar dalam dokumentasi project. Mereka membuat vlog bertema "Perjalanan Menuju Pagelaran ", yang menjadi bagian dari tugas mata pelajaran bahasa Indonesia. Melalui vlog ini, mereka meliput proses pembuatan wayang, latihan, hingga pementasan.


Kelas IX dan Kelas XII : Panggung Wayang Orang dalam Implementasi P5


Tidak hanya siswa kelas VII,VIII,X,XI saja yang menampilkan pertunjukkan, namun siswa kelas IX dan XII juga turut serta mengimplementasikan P5 melalui pagelaran Wayang Orang. Dalam project ini, mereka juga bekerja sama untuk membuat properti di bawah bimbingan Coach Agus C., menyiapkan kostum-kostum wayang, serta menulis naskah dalam bahasa Jawa dan melakukan audio recording dengan arahan Coach Aiko dan Coach Loren seperti proses persiapan pagelaran wayang kertas. Mereka juga harus berlatih gerakan-gerakan tari yang sesuai dengan naskah yang mereka tulis. Selaku generasi global, tentu saja ada banyak rintangan dalam proses implementasi P5 ini, terutama dalam hal penulisan naskah dalam bahasa Jawa dan penuturan kata dalam bahasa Jawa, namun, semangat para siswa dan guru dalam menyelenggarakan acara ini tentu saja membuat segala rintangan tersebut menjadi motor penggerak untuk terus maju dan bergerak untuk mensukseskan acara ini.


Manfaat Implementasi P5 di Eagle School Semarang


Kegiatan ini memberikan banyak manfaat bagi siswa. Selain memperkuat nilai-nilai Pancasila seperti gotong royong, kreativitas, dan cinta budaya, siswa juga belajar keterampilan abad ke-21, seperti komunikasi, kolaborasi, dan pemecahan masalah.

“Proyek ini mengajarkan kami untuk bekerja sama dan menghargai proses,” ujar salah satu siswa. Sementara itu, seorang siswa dari kelas XI menambahkan, “Lewat pembuatan vlog tentang proses menuju Pagelaran wayang ini, saya belajar banyak tentang teks berita, reportase, liputan, menulis naskah dan public speaking. Ini pengalaman yang luar biasa.”


Kesimpulan

Pagelaran Wayang Kertas di Eagle School Semarang menjadi bukti nyata bagaimana P5 dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran berbasis project yang kolaboratif dan kreatif. Dengan dukungan guru dan antusiasme siswa, serta kolaborasi dengan berbagai elemen sekolah, kegiatan ini tidak hanya menjadi media pembelajaran, tetapi juga ajang untuk melestarikan budaya lokal sekaligus membangun karakter generasi muda yang tangguh dan inovatif.


Lisa Aiko

Wednesday, November 20, 2024

Pagelaran Wayang, Solusi Kreatif untuk Implementasi P5 dalam Pembelajaran Sekolah Menengah Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Pagelaran Wayang, Solusi Kreatif untuk Implementasi P5 dalam Pembelajaran Sekolah Menengah", Klik untuk baca: https://www.kompasiana.com/aikochannel5183/673a2d2634777c205d1666e2/pagelaran-wayang-solusi-kreatif-untuk-implementasi-p5-dalam-pembelajaran-sekolah-menengah Kreator: LISA AIKO Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com

 Semarang, 18 November 2024 — Dalam rangka mendukung implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), seni pagelaran wayang telah menjadi salah satu metode pembelajaran inovatif yang digunakan di sekolah menengah. Dengan menggabungkan seni tradisional dan pendidikan karakter, pagelaran wayang memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan berbagai keterampilan, termasuk berpikir kritis, kolaborasi, dan empati.


Pagelaran wayang sebagai bagian dari P5 bertujuan untuk memperkenalkan nilai-nilai Pancasila, seperti gotong royong, keberagaman, dan keadilan sosial, melalui cerita-cerita moral yang terkandung dalam lakon wayang. Siswa dapat terlibat langsung dalam berbagai aspek, mulai dari pembuatan wayang, penulisan naskah, hingga peran sebagai dalang atau pemain. Hal ini tidak hanya memperkaya pengetahuan budaya mereka, tetapi juga menumbuhkan rasa cinta terhadap warisan budaya Indonesia.


Penerapan P5 melalui pagelaran wayang juga dapat menyentuh berbagai isu sosial dan lingkungan yang relevan dengan kehidupan siswa saat ini. Misalnya, tema wayang yang diangkat dapat berkaitan dengan pentingnya menjaga keberlanjutan alam atau toleransi antar individu. Dengan cara ini, pembelajaran tidak hanya terfokus pada aspek akademis, tetapi juga pembentukan karakter yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.


Melalui metode ini, sekolah menengah tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga memberikan pengalaman belajar yang mendalam dan menyentuh nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Sebagai bentuk pembelajaran yang menarik dan menyeluruh, pagelaran wayang terbukti menjadi alat efektif dalam mengimplementasikan P5 di kalangan siswa.


Lisa Aiko


Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Pagelaran Wayang, Solusi Kreatif untuk Implementasi P5 dalam Pembelajaran Sekolah Menengah", Klik untuk baca:

https://www.kompasiana.com/aikochannel5183/673a2d2634777c205d1666e2/pagelaran-wayang-solusi-kreatif-untuk-implementasi-p5-dalam-pembelajaran-sekolah-menengah


Kreator: LISA AIKO


Ketika AI Bertemu Tradisi: Inovasi Digital untuk Melestarikan Budaya Indonesia

 

Ketika AI Bertemu Tradisi: Inovasi Digital untuk Melestarikan Budaya Indonesia

 

Kompasiana, Rabu, 20 November 2024

Oleh : Lisa Aiko

 

Artificial Intelligence (AI) semakin menjadi alat yang kuat untuk melestarikan dan menghidupkan kembali kekayaan budaya Indonesia. Teknologi ini memungkinkan dokumentasi, pengajaran, dan penyebaran budaya tradisional secara global dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam konteks budaya Indonesia, AI dapat memainkan peran besar, mulai dari pelestarian bahasa daerah hingga revitalisasi seni tradisional.

 

Pelestarian Bahasa dan Tradisi

AI digunakan untuk mendokumentasikan dan melestarikan bahasa-bahasa daerah yang terancam punah. Teknologi seperti Natural Language Processing (NLP) memungkinkan penerjemahan otomatis dan pengajaran bahasa daerah kepada generasi muda. Proyek serupa di negara lain menunjukkan bahwa AI dapat membantu merekam dan mengintegrasikan pengetahuan tradisional ke dalam sistem pembelajaran digital untuk memastikan kelestariannya

.

Revitalisasi Seni Tradisional
AI juga berperan dalam seni dan kerajinan tradisional. Algoritme AI mampu menganalisis pola batik atau ukiran tradisional dan membantu desainer modern menciptakan karya yang terinspirasi oleh warisan budaya ini. Selain itu, teknologi realitas virtual (VR) yang didukung AI dapat menghadirkan pengalaman interaktif, seperti tur virtual candi atau pementasan seni wayang, sehingga dapat menjangkau audiens global.

 

Kolaborasi Teknologi dan Komunitas Lokal

Meskipun AI membawa peluang besar, kolaborasi dengan komunitas lokal tetap penting. Pendekatan ini memastikan bahwa inovasi teknologi tidak hanya menghormati nilai budaya tetapi juga melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama dalam pelestarian tradisi mereka.

 

Dampak yang Lebih Luas

Integrasi AI dengan budaya tidak hanya membantu melestarikan warisan, tetapi juga meningkatkan kesadaran global tentang keberagaman budaya Indonesia. Inisiatif ini juga dapat mendukung ekonomi kreatif melalui produk-produk budaya yang diperkaya teknologi, sekaligus menarik perhatian generasi muda terhadap tradisi mereka.

Sebagai langkah ke depan, penting bagi pemerintah, akademisi, dan pelaku teknologi untuk bekerja sama memastikan bahwa inovasi digital ini digunakan secara etis dan inklusif. Dengan demikian, AI tidak hanya menjadi alat teknologi, tetapi juga jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan budaya Indonesia.

 

Referensi:

  • United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) tentang pelestarian bahasa dan budaya melalui teknologi17.
  • Brookings Institution mengenai aplikasi AI dalam berbagai sektor, termasuk pelestarian budaya18.

"Pentas Wayang Orang: Kreativitas Kelas 12 Eagle School dalam Melestarikan Budaya yang Nyaris Punah"

  

"Pentas Wayang Orang: Kreativitas Kelas 12 Eagle School dalam Melestarikan Budaya yang Nyaris Punah"

 

 Kompasiana, Rabu, 20 November 2024

Oleh : Lisa Aiko


         Kelas 12 menunjukkan dedikasi luar biasa dalam mempersiapkan pementasan wayang orang sebagai bagian dari implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Perjalanan ini bukan hanya melibatkan upaya fisik, tetapi juga mental dan kolaborasi kreatif.

Salah satu tantangan terbesar yang mereka hadapi adalah menerjemahkan naskah drama wayang orang ke dalam bahasa Jawa. Proses ini membutuhkan pemahaman mendalam tentang konteks budaya sekaligus kepekaan terhadap nuansa bahasa. Tidak hanya itu, merekam suara untuk kebutuhan lipsync saat pementasan memerlukan ketelitian tinggi agar hasilnya sesuai dengan ekspresi karakter.

Persiapan lainnya meliputi latihan gerakan wayang orang yang khas dan penuh makna. Gerakan ini tidak sekadar estetika, tetapi juga menyampaikan cerita yang sarat filosofi. Selain itu, membuat properti secara mandiri pun menjadi tantangan tersendiri, karena melibatkan kreativitas, ketekunan, dan pengelolaan sumber daya yang terbatas.

Menurut saya, upaya siswa kelas 12 ini adalah contoh nyata bagaimana seni tradisional dapat dihidupkan kembali oleh generasi muda terutama anak-anak muda di kelas 12 Eagle School. Proses kreatif ini juga memperlihatkan bagaimana P5 dapat mengintegrasikan nilai-nilai gotong royong, tanggung jawab, dan cinta budaya.

Namun, untuk mendukung upaya ini saya rasa akan lebih baik apabila ada pendampingan lebih lama dan intensif dari pelatih profesional untuk gerakan wayang orang, mengingat gerakan wayang orang adalah gerakan tari jawa/tradisional, yang tentunya tidak mudah bila hanya dipelajari dalam beberapa hari. Selain itu, kolaborasi dengan seniman lokal dapat memberikan inspirasi dan wawasan baru. Penyediaan fasilitas seperti bahan properti dan studio rekaman sederhana juga sangat membantu meningkatkan kualitas pementasan.Untuk itu pihak sekolah sudah sangat kooperatif dengan menyediakan kostum wayang orang dan banyak property, juga sekolah memfasilitasi dengan studio rekaman dimana mereka dapat melakukan rekaman di tempat yang baik.

Dengan dedikasi yang telah ditunjukkan, pementasan wayang orang ini tidak hanya menjadi sebuah pagelaran seni, tetapi juga pembelajaran bermakna yang memperkuat identitas budaya siswa. Semoga semangat ini terus hidup dan menginspirasi generasi berikutnya.

https://www.kompasiana.com/aikochannel5183/673d5955ed641523354f5062/pentas-wayang-orang-kreatifitas-kelas-12-eagle-school-dalam-melestarikan-budaya-yang-nyaris-

Ketika Pikiran Menjadi Takdir : Self Fulfilling Prophecy dalam Membangun Harga Diri

Kreator : Lisa Aiko Ketika kita depresi, maka kita yakin bahwa kita sama sekali tidak berharga. Semakin buruk depresi, semakin kita merasaka...