Pages

Wednesday, November 5, 2025

Tontonan Indah di Sebuah Kelas

 Tontonan Indah di Sebuah Kelas


Penulis : Lisa Aiko


Di antara keriuhan celotehan mereka

Kulihat pelangi dalam sorotan bening 

Netra mereka seolah berujar

“Aku ingin terbang, jangan hentikan aku!”

Angin berbisik dengan nada 

“Lihatlah mereka, panah muda dengan bara”

Dengan ujud riang yang melesat jauh

Tak pura-pura ceritanya


Seolah bumi mendengar bisikan pasir

Mengharu biru tontonan bermusim

Tak bergeming melihat polah lugu penuh mimpi

Bermain drama dalam satu kilas balik


Seperti menonton pertunjukan

Ketika sang pencerita membacakan kisah

Segmen dan fragmen telah dimulai

Suatu awalan tanpa imbuhan


Gambaran melihat takjub

Tayangan indah dalam lukisan

Yang memancar dari benak 

Berandai-andai di masa depan

Berjumpa dengan tulisan yang mungkin telah berubah wujud


Meski harap digenapi mimpi

Yang ditorehkan dari masa muda

Saat hidup menguji mereka

Akankah mereka tetap menjadi diri mereka 

yang hari ini begitu indah?


Sang Pemimpi..masihkah kamu penuh harap

Bila penamu berhenti berbicara

Monday, September 8, 2025

Chat GPT di Sekolah : Membantu Siswa Belajar atau Justru Mempermudah Jalan Pintas

Kreator : Lisa Aiko

Digitalisasi makin menjadi, termasuk di dunia pendidikan. "Mesin Pintar Masuk Kelas", begitulah Chat GPT bagi para siswa. Anak-anak dapat menyelesaikan tugas esai hanya dalam hitungan menit—cukup dengan menuliskan perintah atau prompt di ChatGPT. Tapi di balik kemudahan itu, para guru mulai bertanya-tanya: "Apakah ini hasil pemikiran siswa, atau buatan mesin pintar?"

Kehadiran kecerdasan buatan (AI), terutama ChatGPT, telah mengubah cara belajar banyak siswa. Mereka kini bisa mencari penjelasan rumit, merangkum materi, atau bahkan menulis puisi hanya dengan beberapa klik. Tapi di balik manfaat itu, muncul kekhawatiran: apakah siswa benar-benar belajar, atau sekadar mengandalkan mesin?

Antara Belajar dan Menyalin

Salah satu guru Bahasa Indonesia di sebuah SMA sering merasa ada yang janggal saat membaca tugas muridnya. "Tulisannya memang bagus, terstruktur, dan rapi. Tapi saat ditanya maksudnya, si murid bingung menjawab,' ujarnya.

"Kayaknya bagus banget, tapi rasanya hambar. Waktu saya tanya bagian tertentu, anaknya malah tidak paham," ujarnya sambil menghela napas.

Fenomena ini mulai marak: siswa bukan mencontek dalam arti klasik, tapi mereka menyerahkan proses berpikir ke mesin. Mereka menyelesaikan tugas, tapi tanpa benar-benar memproses isi pelajaran dalam pikiran mereka, dan mereka sangat bahagia dengan kehadiran AI ini.

AI-ku, Bestie-ku : Saat AI Jadi Teman Belajar

Namun tidak semua siswa menyalahgunakan teknologi. Sakura (nama samaran), siswa kelas 12, justru merasa terbantu.

"Kadang saya kurang paham dengan penjelasan dari buku atau guru. ChatGPT bisa bantu jelaskan dengan bahasa yang lebih mudah," katanya. "Tapi saya tetap baca buku juga, kok, dan saya tidak mencari jawaban ujian dari AI, karena bagi saya AI hanya membantu dalam proses belajar namun AI bukan jawaban."

Teknologi bisa sangat membantu, selama digunakan dengan bijak. Tapi memang, tidak semua siswa bisa membedakan batas antara ‘dibantu’ dan ‘mengandalkan sepenuhnya’.

Nasib Guru : Bertahan atau Tergantikan?

Di tengah gempuran teknologi, para guru ditantang untuk beradaptasi. Bukan dengan menolak AI, tapi dengan mengajarkan cara menggunakannya secara etis dan bertanggung jawab.

Saya berpikir, belajar itu bukan hanya soal nilai, tapi Proses  belajarnya. Kita perlu tahu bagaimana siswa berpikir, merespon, mengambil keputusan,bukan hanya apa hasil akhirnya. Akhir-akhir ini karena anak-anak tergantung dengan AI, mereka menjadi malas berpikir dan akibatnya akan berpengaruh terhadap critical thinking siswa.

Beberapa sekolah mulai meminta siswa menunjukkan langkah-langkah pemikirannya dalam tugas, bukan sekadar mengumpulkan jawaban akhir. Ada juga yang mulai menerapkan diskusi dan presentasi sebagai bentuk penilaian, bahkan di banyak universitas top di Indonesia mulai menerapkan tugas-tugas tertulis untuk melihat critica

Dikendalikan atau Mengendalikan

Teknologi diciptakan dengan tujuan awal untuk membantu manusia, demikian pula Chat GPT. AI bukan musuh. Ia hanya alat. Seperti pisau, ia bisa membantu atau melukai—tergantung siapa yang menggunakannya dan untuk apa. Siswa harus belajar bahwa untuk menggunakan teknologi ada yang namanya etika dan kebijaksanaan digital. Teknologi diciptakan oleh manusia, maka seharusnya manusia mengendalikan teknologi, dan bukan sebaliknya.

Karena kita hidup di jaman yang terus berkembang secara teknologi, maka kita tidak bisa lepas dari teknologi.  Satu hal yang bisa kita lakukan adalah memastikan kita tidak kehilangan semangat untuk berpikir, bertanya, terus belajar dengan jujur, dan menjadi diri sendiri.


Tuesday, February 4, 2025

LATIHAN

 Latihan menulis ceerpen 


REFENSI

REFERNSI

Salmaa Menulis: Pengertian, Tujuan, Fungsi, Manfaat dan Teknik Menulis, 2021 , https://penerbitdeepublish.com/menulis/

Wednesday, January 22, 2025

Gangguan Psikologi pada Masa Remaja : Ketika Dunia Mulai Terasa Rumit 1

 Kreator : Lisa Aiko


✔ Mengapa emosi sering sulit dikendalikan?

✔ Apakah overthinking itu normal?

✔ Bagaimana menghadapinya tanpa merasa sendirian?

✔ Bagaimana mengatasi insecure?

✔ Apa saja gangguan psikologi pada masa remaja?


✨ "Bagaimana tekanan dari lingkungan, pertemanan, dan ekspektasi diri membentuk cerita remaja yang penuh liku?"


🎭 Temukan Fakta & Solusi:

📖 Artikel ini mengupas  perjalanan psikologis remaja yang sering kali tak terlihat namun sangat berpengaruh. Jangan lewatkan kisah, wawasan, dan tips menarik untuk mendukung remaja melewati masa penuh tantangan! 🌟


Remaja adalah kelompok individu yang paling rentan mengalami gangguan mental. Sebab, banyak faktor risiko yang dihadapi remaja yang berpotensi memengaruhi kesehatan mental mereka.


Faktor-faktor yang dapat menyebabkan stres selama masa remaja antara lain :

1. keinginan besar untuk lebih mandiri,

2. tekanan saat menyesuaikan diri dengan teman sebaya

3. peningkatan akses dan penggunaan teknologi.

4. kondisi rumah tangga

5. kekerasan seksual yang rentan menimpa para remaja.

Lantas, jenis-jenis gangguan mental seperti apa yang rentan dialami para remaja? Ini contohnya. 


Jenis Gangguan Mental yang Rentan Dialami Remaja

Melansir dari WHO, berikut jenis-jenis gangguan mental yang rentan dialami oleh para remaja:

1. Gangguan Emosi

Gangguan emosi umumnya muncul pada masa remaja. Selain depresi atau kecemasan, remaja dengan gangguan emosi bisa mengalami sifat mudah marah, frustasi atau marah secara berlebihan. Selain gejala psikologis, gangguan emosi juga dapat menimbulkan gejala fisik, seperti sakit perut, sakit kepala, atau mual. Gangguan emosional bisa sangat memengaruhi kinerja di sekolahnya. Jika tidak segera ditangani, remaja yang mengalami gangguan emosi dapat mengalami gejala lebih buruk, seperti mengisolasi diri hingga punya pikiran bunuh diri.


2. Masalah Perilaku

Masalah perilaku pada masa kanak-kanak merupakan penyebab utama kedua gangguan mental pada remaja. Gangguan perilaku pada masa kanak-kanak contohnya ADHD yang ditandai dengan kesulitan fokus dan gangguan perilaku yang ditandai dengan perilaku merusak atau menantang. Masalah perilaku ini juga dapat memengaruhi kinerja sekolah dan berisiko menimbulkan perilaku kriminal pada remaja.


3. Gangguan Makan

Gangguan makan biasanya muncul pada masa remaja dan dewasa muda. Gangguan makan lebih sering menyerang wanita daripada pria. Contoh gangguan makan yang bisa dialami remaja adalah anoreksia nervosa, bulimia nervosa, dan gangguan makan yang ditandai dengan membatasi kalori atau makan berlebihan. Gangguan makan berisiko merusak kesehatan dan sering kali muncul bersamaan dengan depresi, kecemasan atau penyalahgunaan zat.


4. Psikosis

Gejala psikosis paling sering muncul pada akhir masa remaja atau awal masa dewasa. Gejala dapat berupa halusinasi atau delusi. Gejala ini dapat mengganggu kemampuan remaja untuk berpartisipasi dalam kehidupan sehari-hari dan memengaruhi kinerja sekolahnya. Psikosis juga bisa menimbulkan stigma negatif di masyarakat atau pelanggaran hak asasi manusia.


5. Menyakiti Diri Sendiri Hingga Bunuh Diri

Ada sejumlah faktor risiko yang memicu perilaku bunuh diri pada remaja. Misalnya, penggunaan alkohol yang berbahaya, pelecehan di masa kanak-kanak dan hambatan dalam mengakses perawatan mental. Selain itu, media sosial juga kini menjadi penyebab bunuh diri terbesar pada anak remaja. Pasalnya, media sosial bisa menuntut banyak hal pada anak remaja, seperti citra diri dan kehidupan yang cenderung konsumtif.


6. Perilaku Pengambilan Risiko

Para remaja juga rentan mengambil banyak risiko, seperti risiko melakukan hubungan seksual dini, merokok, minum alkohol, hingga penyalahgunaan narkoba. Tindakan kekerasan adalah perilaku pengambilan risiko yang dapat memengaruhi pencapaian pendidikan, cedera, keterlibatan dengan kejahatan, hingga kematian.

Krisis identitas adalah kondisi ketika seseorang kerap mempertanyakan berbagai hal yang berkaitan dengan identitas dirinya, seperti kepercayaan, nilai hidup, tujuan hidup, pengalaman, dan perasaan. Krisis identitas dapat dialami oleh semua orang, tapi lebih sering terjadi pada remaja yang masih mencari jati diri.


KRISIS IDENTITAS

Mengapa krisis identitas terjadi ?

adanya perubahan atau tekanan besar dalam hidup yang dapat menyebabkan seseorang menjadi stres,


Hal-hal yang menyebabkan krisis identitas :

1. saat mendapat atau kehilangan pekerjaan,

2. pensiun (post power syndrome)

3. baru menikah atau bercerai, (perubahan dalam hidup)

4. pindah rumah (berpisah dengan sahabat dan teman terdekat)

5. kehilangan orang yang dicintai.(meninggal atau pergi )

6.memiliki kondisi kesehatan mental tertentu,( seperti gangguan bipolar, depresi, dan gangguan kepribadian)


Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Gangguan Psikologi pada Masa Remaja : Ketika Dunia Mulai Terasa Rumit 1", Klik untuk baca:

https://www.kompasiana.com/aikochannel5183/6786385c34777c5aad321ab2/gangguan-psikologi-pada-masa-remaja-ketika-dunia-mulai-terasa-rumit-1?page=4&page_images=1

Kreator: LISA AIKO




Saturday, November 23, 2024

Wayang Orang dan Wayang Kertas, Kolaborasi Cerdas: Eagle School Semarang Hidupkan Budaya Lewat P5"



Semarang – Sebagai bagian dari implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), Eagle School Semarang mengadakan pagelaran Wayang Orang dan Wayang Kertas yang melibatkan kolaborasi siswa dari berbagai tingkatan kelas. Acara yang diselenggarakan dalam mata pelajaran Challenge ini menjadi bukti nyata sinergi antar siswa,guru dan seluruh elemen sekolah dalam menciptakan pembelajaran bermakna.


Wayang Kertas

Mata pelajaran Challenge di Eagle School Semarang mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu dalam bentuk project. Pagelaran Wayang Kertas dilakukan oleh siswa kelas VI, VII, X, dan XI bekerja sama dalam proses persiapan yang meliputi pembuatan wayang kertas, penulisan naskah, audio recording, dan latihan pementasan. Seluruh proses didampingi oleh guru pembimbing Challenge, Coach Dedi dan Coach Nana, guru bahasa Coach Aiko dan Coach Loren, guru pembimbing pembuatan properti Coach Agus C. serta guru-guru wali kelas masing-masing.


Kreativitas dalam Kolaborasi Antar Siswa dan Guru


Pembuatan wayang kertas dipandu oleh Coach Agus C., guru yang membimbing siswa dalam merancang dan membuat wayang kertas serta properti. Dalam sesi ini, siswa tidak hanya belajar keterampilan seni rupa, tetapi juga mengembangkan kreativitas. Tak hanya itu saja. Proses pembuatan wayang kertas ini membuat siswa makin mengenal budaya Indonesia terutama wayang dan juga siswa belajar berkolaborasi dalam menyatukan ide dan gagasan selama proses pembuatan wayang kertas ini.


Penulisan Naskah dan Dokumentasi Project


Penulisan naskah dan audio recording dipandu oleh Coach Aiko dan Coach Loren, guru bahasa Indonesia dan Seni Budaya yang juga membantu siswa menyusun dialog pementasan dalam bahasa Jawa. Bimbingan ini bertujuan untuk memperkenalkan dan melestarikan budaya lokal melalui seni pertunjukan.

Siswa kelas XI juga berperan besar dalam dokumentasi project. Mereka membuat vlog bertema "Perjalanan Menuju Pagelaran ", yang menjadi bagian dari tugas mata pelajaran bahasa Indonesia. Melalui vlog ini, mereka meliput proses pembuatan wayang, latihan, hingga pementasan.


Kelas IX dan Kelas XII : Panggung Wayang Orang dalam Implementasi P5


Tidak hanya siswa kelas VII,VIII,X,XI saja yang menampilkan pertunjukkan, namun siswa kelas IX dan XII juga turut serta mengimplementasikan P5 melalui pagelaran Wayang Orang. Dalam project ini, mereka juga bekerja sama untuk membuat properti di bawah bimbingan Coach Agus C., menyiapkan kostum-kostum wayang, serta menulis naskah dalam bahasa Jawa dan melakukan audio recording dengan arahan Coach Aiko dan Coach Loren seperti proses persiapan pagelaran wayang kertas. Mereka juga harus berlatih gerakan-gerakan tari yang sesuai dengan naskah yang mereka tulis. Selaku generasi global, tentu saja ada banyak rintangan dalam proses implementasi P5 ini, terutama dalam hal penulisan naskah dalam bahasa Jawa dan penuturan kata dalam bahasa Jawa, namun, semangat para siswa dan guru dalam menyelenggarakan acara ini tentu saja membuat segala rintangan tersebut menjadi motor penggerak untuk terus maju dan bergerak untuk mensukseskan acara ini.


Manfaat Implementasi P5 di Eagle School Semarang


Kegiatan ini memberikan banyak manfaat bagi siswa. Selain memperkuat nilai-nilai Pancasila seperti gotong royong, kreativitas, dan cinta budaya, siswa juga belajar keterampilan abad ke-21, seperti komunikasi, kolaborasi, dan pemecahan masalah.

“Proyek ini mengajarkan kami untuk bekerja sama dan menghargai proses,” ujar salah satu siswa. Sementara itu, seorang siswa dari kelas XI menambahkan, “Lewat pembuatan vlog tentang proses menuju Pagelaran wayang ini, saya belajar banyak tentang teks berita, reportase, liputan, menulis naskah dan public speaking. Ini pengalaman yang luar biasa.”


Kesimpulan

Pagelaran Wayang Kertas di Eagle School Semarang menjadi bukti nyata bagaimana P5 dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran berbasis project yang kolaboratif dan kreatif. Dengan dukungan guru dan antusiasme siswa, serta kolaborasi dengan berbagai elemen sekolah, kegiatan ini tidak hanya menjadi media pembelajaran, tetapi juga ajang untuk melestarikan budaya lokal sekaligus membangun karakter generasi muda yang tangguh dan inovatif.


Lisa Aiko

Wednesday, November 20, 2024

Pagelaran Wayang, Solusi Kreatif untuk Implementasi P5 dalam Pembelajaran Sekolah Menengah Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Pagelaran Wayang, Solusi Kreatif untuk Implementasi P5 dalam Pembelajaran Sekolah Menengah", Klik untuk baca: https://www.kompasiana.com/aikochannel5183/673a2d2634777c205d1666e2/pagelaran-wayang-solusi-kreatif-untuk-implementasi-p5-dalam-pembelajaran-sekolah-menengah Kreator: LISA AIKO Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com

 Semarang, 18 November 2024 — Dalam rangka mendukung implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), seni pagelaran wayang telah menjadi salah satu metode pembelajaran inovatif yang digunakan di sekolah menengah. Dengan menggabungkan seni tradisional dan pendidikan karakter, pagelaran wayang memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan berbagai keterampilan, termasuk berpikir kritis, kolaborasi, dan empati.


Pagelaran wayang sebagai bagian dari P5 bertujuan untuk memperkenalkan nilai-nilai Pancasila, seperti gotong royong, keberagaman, dan keadilan sosial, melalui cerita-cerita moral yang terkandung dalam lakon wayang. Siswa dapat terlibat langsung dalam berbagai aspek, mulai dari pembuatan wayang, penulisan naskah, hingga peran sebagai dalang atau pemain. Hal ini tidak hanya memperkaya pengetahuan budaya mereka, tetapi juga menumbuhkan rasa cinta terhadap warisan budaya Indonesia.


Penerapan P5 melalui pagelaran wayang juga dapat menyentuh berbagai isu sosial dan lingkungan yang relevan dengan kehidupan siswa saat ini. Misalnya, tema wayang yang diangkat dapat berkaitan dengan pentingnya menjaga keberlanjutan alam atau toleransi antar individu. Dengan cara ini, pembelajaran tidak hanya terfokus pada aspek akademis, tetapi juga pembentukan karakter yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.


Melalui metode ini, sekolah menengah tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga memberikan pengalaman belajar yang mendalam dan menyentuh nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Sebagai bentuk pembelajaran yang menarik dan menyeluruh, pagelaran wayang terbukti menjadi alat efektif dalam mengimplementasikan P5 di kalangan siswa.


Lisa Aiko


Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Pagelaran Wayang, Solusi Kreatif untuk Implementasi P5 dalam Pembelajaran Sekolah Menengah", Klik untuk baca:

https://www.kompasiana.com/aikochannel5183/673a2d2634777c205d1666e2/pagelaran-wayang-solusi-kreatif-untuk-implementasi-p5-dalam-pembelajaran-sekolah-menengah


Kreator: LISA AIKO


Ketika AI Bertemu Tradisi: Inovasi Digital untuk Melestarikan Budaya Indonesia

 

Ketika AI Bertemu Tradisi: Inovasi Digital untuk Melestarikan Budaya Indonesia

 

Kompasiana, Rabu, 20 November 2024

Oleh : Lisa Aiko

 

Artificial Intelligence (AI) semakin menjadi alat yang kuat untuk melestarikan dan menghidupkan kembali kekayaan budaya Indonesia. Teknologi ini memungkinkan dokumentasi, pengajaran, dan penyebaran budaya tradisional secara global dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam konteks budaya Indonesia, AI dapat memainkan peran besar, mulai dari pelestarian bahasa daerah hingga revitalisasi seni tradisional.

 

Pelestarian Bahasa dan Tradisi

AI digunakan untuk mendokumentasikan dan melestarikan bahasa-bahasa daerah yang terancam punah. Teknologi seperti Natural Language Processing (NLP) memungkinkan penerjemahan otomatis dan pengajaran bahasa daerah kepada generasi muda. Proyek serupa di negara lain menunjukkan bahwa AI dapat membantu merekam dan mengintegrasikan pengetahuan tradisional ke dalam sistem pembelajaran digital untuk memastikan kelestariannya

.

Revitalisasi Seni Tradisional
AI juga berperan dalam seni dan kerajinan tradisional. Algoritme AI mampu menganalisis pola batik atau ukiran tradisional dan membantu desainer modern menciptakan karya yang terinspirasi oleh warisan budaya ini. Selain itu, teknologi realitas virtual (VR) yang didukung AI dapat menghadirkan pengalaman interaktif, seperti tur virtual candi atau pementasan seni wayang, sehingga dapat menjangkau audiens global.

 

Kolaborasi Teknologi dan Komunitas Lokal

Meskipun AI membawa peluang besar, kolaborasi dengan komunitas lokal tetap penting. Pendekatan ini memastikan bahwa inovasi teknologi tidak hanya menghormati nilai budaya tetapi juga melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama dalam pelestarian tradisi mereka.

 

Dampak yang Lebih Luas

Integrasi AI dengan budaya tidak hanya membantu melestarikan warisan, tetapi juga meningkatkan kesadaran global tentang keberagaman budaya Indonesia. Inisiatif ini juga dapat mendukung ekonomi kreatif melalui produk-produk budaya yang diperkaya teknologi, sekaligus menarik perhatian generasi muda terhadap tradisi mereka.

Sebagai langkah ke depan, penting bagi pemerintah, akademisi, dan pelaku teknologi untuk bekerja sama memastikan bahwa inovasi digital ini digunakan secara etis dan inklusif. Dengan demikian, AI tidak hanya menjadi alat teknologi, tetapi juga jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan budaya Indonesia.

 

Referensi:

  • United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) tentang pelestarian bahasa dan budaya melalui teknologi17.
  • Brookings Institution mengenai aplikasi AI dalam berbagai sektor, termasuk pelestarian budaya18.

Ketika Pikiran Menjadi Takdir : Self Fulfilling Prophecy dalam Membangun Harga Diri

Kreator : Lisa Aiko Ketika kita depresi, maka kita yakin bahwa kita sama sekali tidak berharga. Semakin buruk depresi, semakin kita merasaka...